Rabu, 26 Agustus 2009

Pengalamku

Sebelumnya perkenalkan namaku  Barry,  Barry
Wardoyo lengkapnya. Aku adalah anggota baru CCS ini. Aku diperkenalkan
oleh seorang teman mengenai dunia internet dan tentu saja CCS ini.
Jadi boleh dibilang aku masih awam soal internet. Tapi semenjak
membaca cerita-cerita arsip CCS (http://browse.to/ceritaseru), aku
tergelitik untuk ikut berpartisipasi menceritakan pengalaman aku yang
pertama kali dengan wanita. Sebelumnya mengenai diri aku. Aku adalah
seorang bujangan dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan kecil di
daerah Jakarta Barat. Pendidikan aku hanya sampai SMA ditambah
beberapa kursus ketrampilan. Aku adalah orang awam di komputer dan
internet, jadi maafkan aku kalau aku kurang lincah dalam bertutur
kata. Umurku sekarang 30 tahun dan belum ada keinginan untuk menikah.
Belum adanya keinginan itu berkaitan erat dengan serangkaian
pengalaman yang akan ku ceritakan kepada teman-teman pembaca semua
dalam tulisanku.

Baiklah, aku akan mulai bercerita 'pengalaman pertama' ku bersenggama
dengan seorang wanita. Wanita yang telah melepaskan keperjakaanku
adalah tanteku sendiri. Dan kisah ini dimulai ketika aku masih berumur
20 tahun dan saat itu sedang menjadi pengangguran (baru lulus SMA dan
belum dapat pekerjaan). Pada saat itu aku masih tinggal di rumah orang
tua aku di Jakarta juga.

Kebetulan keluarga kami tinggal saling berdekatan dengan para sanak
famili. Salah satunya adalah keluarga Oom Rudi dan Tante Yok. Oom Rudi
ini adalah sepupu jauh dari ayah aku. Oom Rudi adalah seorang
pengusaha dan punya usaha di Surabaya sehingga dia sering pergi ke
Surabaya untuk mengurus bisnisnya. Oom Rudi sudah berumur sekitar 43
tahun. Fisiknya cukup ganteng meskipun rambutnya sudah tidak selebat
dulu. Tante Yok, nama lengkapnya adalah Yohana Kardina - disingkat
menjadi Yo(hana) K(ardina), pada saat itu sudah berumur 38 tahun.
Fisiknya masih menggairahkan, menurut pandangan aku. Rambutnya masih
hitam dan panjang terawat. Kulitnya putih mulus. Tubuhnya sendiri bisa
dibilang sintal dan montok - meskipun memang ada kecenderungan agak
gemuk di bagian pinggang, seperti layaknya wanita menjelang paro baya.
Buah dadanya tidak terlalu besar tapi proporsional dengan tubuhnya
yang tinggi, sekitar 170-an. Wajah tante Yok sendiri memang cantik,
kalau anda suka nonton filmnya Susana - nah kira-kira muka tante Yok
itu seperti Susana yang bersuamikan Clift Sangra itu. Oom Rudi dan
Tante Yok punya 1 orang anak perempuan, umurnya sekitar 15 tahun
namanya Camelia dan dipanggil Lia.

Sewaktu suami Tante Yok yaitu Oom Rudi sering bertugas ke Surabaya
maka Tante Yok menjadi kesepian dan sering bermain ke rumah untuk
ngobrol dengan ibuku. Susahnya di situ ! Kadangkala Tante Yok lupa
untuk duduk secara sopan, kadangkala ia tanpa sengaja menyingkapkan
roknya atau bajunya sehingga beberpa kali terlihat pahanya hampir pada
celana dalamnya ataupun ketiaknya. Waduh waktu itu aku merasa
terangsang karena terus terang saja paha Tante Yok itu terlihat putih,
mulus dan padat menggairahkan. Ketiaknya ketika tak sengaja tersingkap
memperlihatkan bulu-bulu hitam yang sangat banyak.

Sejak awal itulah aku mulai ngelamunin dia, gimana ya rasanya jika aku
bersetubuh dengan dia, aku menelanjangin dia dan melihat seluruh
anggota tubuhnya tanpa dihalangi oleh apapun ? Rasanya itu terus
membayang di mata aku dan mulailah aku melakukan masturbasi dan selalu
membayangkan Tante Yok sebagai wanitanya. Aku hampir-hampir tidak bisa
menahan libido aku itu. Kalau ia berkunjung aku kerap berusaha untuk
ngintip kalau-kalau dia 'open' lagi. Gelas minuman yang disuguhkan
kepadanya sering aku minum lagi, aku mencoba mencari bekas bibirnya
dan mencoba merasakannya dan membayangkan bagaimana jika aku dicium
oleh Tante Yok.

Cerita ini berlanjut terus. Ketika itu aku harus menjaga rumahnya
karena Oom Rudi dan seluruh keluarganya harus pergi ke Surabaya. Jadi
Oom Rudi minta tolong orang tua aku untuk bantu menjaga rumah mereka
karena letak rumah kami yang berdekatan (hanya sekitar 15 menit jika
naik ojek). Karena hanya aku yang 'bisa dipakai' kapan saja pada saat
itu, maka orang tua aku menyuruh aku untuk menjaga rumah Oom Rudi dan
tante Yok. Waduh kebetulan sekali, begitu pikir aku waktu itu. Jadi
aku bisa lihat-lihat segala macam foto-foto keluarga mereka, tentu
yang utamanya adalah foto tante Yok (he..he.). Kira-kira ada sekitar 1
minggu aku bertugas jaga rumah mereka ketika tiba-tiba pada hari
ketujuh (kalau aku nggak salah hari Senin) tante Yok terpaksa kembali
sendirian karena ternyata ia harus mengurus sesuatu yang penting. Nah,
waktu itu ia kembali sudah menjelang malam, sekitar jam 7. Aku sedang
nonton TV
pada saat dia pulang. Terus terang aku cukup surprise dan deg-degan
juga karena aku hanya berdua saja dengan perempuan yang sering jadi
tamu mimpi ini.

Tante Yok sendiri langsung masak untuk menyiapkan makan malam dan aku
menawarkan diri untuk membantunya. "Boleh, makasih banget lho Barry.."
katanya. Waktu aku bantu tanpa sengaja ia sedang duduk untuk
membersihkan dan aku berdiri mencuci pisau dan segalanya. Bajunya
tersingkap sehingga aku melihat buah dadanya meskipun tidak
sepenuhnya. Buah dadanya ukurannya sedang dan putih dibungkus oleh BH
berukuran sedang. Aku rasanya 'naik' melihat pemandangan itu. Buah
dadanya bergoyang seirama dengan gerakannnya. Aduh mak! Ketika aku
lagi begitu, ia menoleh dan tersenyum pada aku, rasanya senyumnya
adalah senyum yang paling manis di dunia saat itu. "Kenapa Barry ?"
dia nanya, "Nggak apa-apa kok Tante." jawabku.

Terus aku dan dia mandi (ruangnya terpisah lho). Aku selesai duluan
dan karena aku biasanya tidur di kamar Oom Rudi dan Tante Yok maka aku
ke kamarnya untuk pakaian dan bebersihan sehabis mandi. Waduh nggak
tahunya dia baru selesai mandi dan cuma lagi pakai BH dan celana
dalam, lagi mau milih baju mana yang dipakai. Seng! rasanya darah aku
naik ke kepala. Dia kaget dan agak menjerit dia berkata "Aduh Barry,
entar dulu ya, Tante lagi pakaian nih!" tapi nggak ada nada marah
dalam suaranya. Aku keluar tapi aku nggak bisa melupakan apa yang aku
lihat tadi. Tante Yok sedang berdiri di depan lemarinya yang pakai
kaca. Di kaca itu aku lihat tubuhnya, buah dadanya yang nggak gitu
besar tapi rasanya aduh gimana gitu nggantung ditutupin BHnya.
Ketiaknya yang berbulu hitam dan sangat lebat tumbuh di sekitar
pangkal lengannya yang putih. Perutnya yang padat dan ranum, pusarnya
yang masuk ke dalam. Pinggulnya yang sedikit gemuk tapi masih sintal.
Terus pahanya yang ditutupin sama celana dalam coklat, mulus, putih
dan padat. Aku nggak bisa lihat apa yang ada di balik celana itu, tapi
rasanya waktu nggak sengaja aku lihat tadi ada sebagian bulu-bulu
hitam yang keluar dari celana dalamnya. Berarti kayaknya bulu-bulu
vaginanya memang banyak banget, kayak bulu ketiaknya. Waduh, aku
tambah ngebet aja ngelihatnya.

Makan malam kami biasa saja dan suasananya jadi kaku karena insiden
tadi. Kami jadi diam-diaman. Aku diam karena aku malu dan nggak enak
karena kejadian tadi. Dia juga diam aja tapi kadangkala curi pandang
ke arah aku.

Terus kelar makan aku bilang sama dia,"Tante nanti jam sembilanan aku
pulang dech." "O, kok buru-buru Barry, besok pagi aja, malam ini
nginep aja di sini. Tante juga di sini agak lamaan sekitar dua
minggu." Dia bilang gitu. Aku takut makin lama aku di situ makin
ngeres pikiran aku, jadi aku berkeras untuk pulang. Akhirnya dia
menyerah dan bilang oke. Malangnya (atau mestinya aku bilang pucuk
dicinta ulam tiba) keadaan bilang lain. Nggak tahunya nggak lama habis
kami makan bersama turun hujan deras banget sampai hujan angin. Yah
jelas aku nggak mau sakit, jadi dech aku malam itu nginap lagi di
rumahnya sama Tante Yok. Aku tidur di kamar Lia - sepupu jauh aku dan
dia tidur di kamarnya. Pas malam hujannya bukan berhenti dan tambah
deras, dingin dech ! Sebelum tidur kami ngobrol-ngobrol sambil , dia
cerita bisnis Oom Rudi di Surabaya dan aku cerita rencanaku untuk
ambil kursus supaya bisa lebih siap untuk kerja. Ternyata tante Yok
lupa untuk duduk sopan lagi sehingga pahanya tersingkap sampai agak
jauh sehingga aku melihat pahanya yang mulus, waduh rasanya gimana
gitu, terus aku ngelihat badan dia secara keseluruhan, terus mulai
bayangin kalau aku mulai menindih dia dan bersetubuh sama dia, gimana
ya ?

Pas malamnya hujan belum berhenti dan tetap deras, kami mulai tidur.
Di kamar aku nggak bisa tidur aku terus mikirin Tante Yok, gimana
rasanya Oom Rudi kalo lagi ngentotin dia, enak pasti ! Untung dech Oom
Rudi dapetin Tante Yok yang montok gitu. Bego dia mau tugas ke
Surabaya ninggalin isteri yang begini seksi dan merangsang birahi ini.

Tiba-tiba ada suara gedubrak dan aku kaget dengar jeritan Tante Yok,
aku loncat dan memburu ke kamarnya. Dia menjerit soalnya ada ular
masuk ke kamarnya. Maklum, lokasi rumah kami ada di daerah pinggiran
Jakarta Selatan - dan waktu itu masih banyak tanah kosong. Ularnya
sudah ada di tempat tidur, jadi cukup dibayangkan gimana perasaannya
Tante Yok saat itu. Panik banget dan sudah hesteris. Lalu aku bergegas
ke dapur ngambil golok terus aku potong ularnya, lalu aku buang ke
depan. Terus aku balik ke kamarnya aku lihat rupanya tuh Ular sawer
kena hujan angin yang emang lagi kenceng banget. Aku terus duduk di
sisi ranjangnya Tante Yok, dia lagi diam karena shock, lalu aku pikir
gimana ya, kamudian seperti dalam film-film yang aku lihat aku pegang
tangannya,"Tante, udah nggak ada apa-apa lagi, udah aman kok....".
Tiba-tiba aja dia meraup dan menyembunyikan kepalanya di dadaku, hep !
rasanya aku kaget nerimanya, aku dengan sedikit berdebar memeluk dia.
Aku bener-bener agak nervous soalnya Tante Yok yang aku impikan tadi
kini ada dalam pelukan aku. Aku bisa pegang badannya, aku elus-elus
punggungnya, aku bisa cium wangi rambutnya yang harum dan subur
terawat denga baik itu. Waduh rasanya aku nggak bisa ngomong apa-apa.
Aku terus menghiburnya dengan mengusap-usapnya menenangkannya dengan
kata-kata pelan.

Tiba-tiba ia menengadah melihat kepada aku. Di tengah remang- remang
cahaya lampu kamarnya yang cuma 10 watt, aku melihat dia. Matanya sayu
melihat aku, mulut yang sedikit terbuka, bibir yang ranum, merah,
basah dan matang, nafasnya yang hangat dan harum menderu di wajah aku.
"Makasih Barry, tante bener- bener kaget tadi....Aduh makasih banget
ya...?". Aku ketawa dan bilang "Nggak apa-apa kok Tante. aku juga
kebetulan tadi belum pules banget...". Aku terus mau beranjak dan
dengan agak menyesal aku melepaskan pelukan aku padanya, aku rasanya
rugi melepaskan tubuhnya yang hangat dan menimbulkan rangsangan aneh
bagi diri aku itu. Dia juga kelihatannya gimana gitu. setelah aku
bener-bener melepaskan dia aku baru perhatiin dia, Tante Yok sangat
cantik dengan baju tidurnya yang berwarna lembut, tanpa lengan
sehingga memperlihatkan pangkal lengannya yang putih dan berisi, dan
ketiaknya yang berbulu hitam keriting lebat dan menebarkan aroma harum
deodorant pula. Dengan perasaan campur aduk aku mulai beranjak keluar
kamar dan keluar. Terus aku diam sebentar di balik pintu kamarnya dan
aku merenung. Aku merasa betul-betul jadi laki-laki yang paling
beruntung di dunia ini tadi ketika aku memeluk Tante Yok. Badannya
begitu montok dalam bayanganku, padat dan harum khas seorang wanita
yang matang. Aduh coba aja aku bisa cium dia, menelanjangi dia dan
mulai ngentotin dia, hem rasanya ......Aku betul-betul ngiri sama Oom
Rudi yang bebas untuk ngentot sama Tante Yok ini, ya soalnya istrinya
sendiri......

Pas aku lagi betul-betul gila sama pikiranku ini, tiba-tiba pintu
kamarnya terbuka dan dia berdiri manggil aku pelan dan lembut
"Barry....". Aku berbalik dan aku sedikit tertegun. Tante Yok berdiri
di depan pintu dengan pandangan sayu menatap ke arahku, begitu cantik
di mataku. Mukanya terlihat putih dan mulus. Pipinya sedikit kemerah-
merahan. Bibir yang merah dan sensual. Rambutnya yang agak panjang
terurai hingga hampir mencapai pinggangnya. Semuanya terasa begitu
indah dan alami di mataku dan makin menambah birahiku. "Apa Tante..."
jawabku. "Tante takut tidur sendiri, takut....nanti ularnya dateng
lagi, kamu udah tidur.......", dia diam sejenak dan sambil menundukan
kepala ia bertanya,"Kamu maukan temani Tante tidur di sini malam ini
?", sambil berkata demikian ia memandang pada aku. Waduh rasanya saat
itu aku nggak bisa berkata apa-apa, aku seperti kejatuhan bulan saja.
Bayangkan, Tante Yok yang sering aku gila-gilai ini kini meminta aku
tidur nemenin dia, aduh men ! aku bisa loncat saking senengnya nich !
"Boleh Tante,....tapi kan tempat tidurnya cuma satu, jadi gimana
dong ....?". Dia tersenyum mendengar pertanyaan aku, ya soalnya aku
juga tahu sopan dong masa aku tidur sekamar dan seranjang lagi dengan
seorang perempuan, perempuan dewasa dan menggairahkan lagi ! "Pokoknya
beres Barry, kamu nggak usah takut..." sambil berkata demikian Tante
Yok melemparkan senyum manis kepada aku dan mengedipkan sebelah
matanya kepadaku. "Yuk, anginnya dingin....di kamar lebih hangat."
Tante Yok kemudian masuk sambil melemparkan senyum kepada aku. Saat
itu aku merasa panas dan dingin, saat itu antara takut, senang, cemas
kumpul jadi satu. Takut soalnya ini pengalaman aku yang pertama tidur
sekamar dan serangjang sama wanita yang bukan ibu aku, senang karena
aku dapat tidur seranjang sama Tante Yok yang sering aku lamunin itu,
cemas karena aku takut ketahuan sama Oom Rudi.

Aku nekat dan mulai membuka pintu dan melangkah masuk.....Aku melihat
Tante Yok sedang berbaring pada sisi seberang jendela yang sawer tadi.
Tempat tidurnya ukuran besar sehingga aku dapat tidur pada sisi
jendelanya. Kamarnya sejuk karena ada AC yang distel bercampur dengan
udara hujan. Aku membaringkan diri dengan dengan perasaan campur aduk.
Bayangkan, Tante Yok yang selalu aku impi-impikan itu kini berada
dekat sekali dengan aku dan dalam situasi yang paling pribadi. Dia
tidur menghadap ke tengah sedang aku memunggunginya. Aku tidak berani
melihat ke wajahnya, aku malu, takut dan berbagai perasaan lain
berkecamuk menjadi satu dalam benakku.

"Barry..." panggil Tante Yok lembut, tangannya meraih bahuku. Aku
membalik dengan perasaan kacau.."Ya Tante....."jawabku. "Kamu benar-
benar lelaki yang hebat, berani sekali.....Tante kagum sama kamu,
makasih ya Tante sudah kamu tolong..." Tante Yok tersenyum manis
kepadaku. Aku tersipu mendengar pujiannya. Lelaki yang hebat ? Waduh
asyik banget dia njulukin aku begitu. Aku cuma nunduk saja, ketika aku
menaikkan pandangan aku, ternyata Tante Yok masih melihat kepada aku.
Pandangannya agak lain dengan pandangan seperti yang biasa kulihat
kalau ia berkunjung ke rumahku.

"Malam ini....." ia berbisik,"Kamu akan Tante kasih hadiah terima
kasih dari Tante karena kamu sudah menyelamatkan Tante dan bantu
jagain rumah ini....." ia diam sejenak. Aku tidak sabar dan
berkata,"Hadiah apa Tante ?" Ia tersenyum dan menjawab ,"Apa yang
paling kamu ingini untuk Tante berikan pada kamu ?". Lidah aku kelu,
dalam hati aku menjawab, aku ingin menyetubuhi Tante, ingin merasakan
bagaimana rasanya memasuki tubuh Tante.... Tapi tentu saja aku tidak
berani berkata demikian, hanya aku melihat dia saja bingung mau
ngomong apa. Ia mengelus kepalaku dengan sebelah tangannya yang bebas
dan berkata,"Kamu sudah melihat Tante habis mandi tadi sore khan ?",
aku gugup dan menjawab,"Tapi aku nggak sengaja Tante, sungguh, aku
minta maaf...". Ia tertawa dan melanjutkan ,"Tante sudah maafkan......
Kamu senang ?" Ia menggoda. Aku merasa mukaku panas tapi aku jujur
menjawab,"Ya senang juga Tante.." Tante Yok tertawa kecil (manis dech
ketawanya) dan kembali berkata ,"Kamu mau lihat lagi nggak ?" aku
melengak tidak mengerti, ia menjelaskan,"Kalau kamu janji tidak cerita
pada siapapun termasuk orang tua kamu, Oom Rudi, anak Tante, kamu
boleh lihat lagi Tante kaya tadi, mau nggak ?" . Jantung aku berdegup
kencang, rasanya kalau ada seribu gunturpun aku tidak akan kaget, aku
tanpa berpikir langsung mengangguk dan mengangguk.

Tante Yok tersenyum melihat tingkahku, dan mendekatkan wajahnya
kepadaku sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan harum di
hidungku. "Kalau kamu mau janji, Tante akan kasih tahu hadiah yang
Tante bilang tadi..." ia diam sebentar dan melanjutkan,"Malam
ini....tante akan ajarin kamu jadi laki-laki dewasa sebagai rasa
terimakasih Tante......." Tante Yok tertunduk malu setelah berkata
demikian. What ashame !!! Ternyata perasaan aku tidak bertepuk sebelah
tangan, Tante Yok pun mengingini aku, membuat aku jadi laki-laki
dewasa ? Waduh istilahnya benar-benar merangsang !

"Gimana Barry, kamu mau ?" Tante Yok bertanya dengan pelan... Kini
tanpa keraguan meskipun rasa takut itu masih ada aku menganggukkan
kepala,"Aku mau tante, tapi...." "Tapi kenapa Barry ?" Ia bertanya
nggak mengerti sambil memegang bahuku. "Aku masih hijau Tante, aku
takut Tante hamil, takut kalo Oom Rudi tahu, takut kalau ternyata aku
nggak bisa memuaskan tante...". Tante Yok merengkuh aku dalam
pelukannya sambil berbisik di telingaku, pelukannya terasa hangat, bau
harum dari badannya tercium..."Serahkan semua resikonya kepada Tante,
Barry. Pokoknya malam ini akan jadi malam yang tak terlupakan buat
kamu".

Lalu ia melepaskan pelukannya dan berdiri memunggungi aku sehingga
retsluitingnya menantang untuk aku buka. Dengan memberanikan diri aku
mulai menyentuh kepala retsluitingnya dan menariknya ke
bawah........terus ke bawah....dan aku baru sadari bahwa retsluiting
yang hanya 40 cm saja sangat panjang dalam situasi seperti ini. Aku
bisa melihat punggungnya ! Punggung yang tadi aku lihat kini aku
pelototi, begitu putih dengan tali BH nya masih terikat.... Ketika aku
memberanikan diri untuk menyentuh tali BHnya Tante Yok membalikkan
badan, melihat kepadaku, tersenyum dan meraih tubuhku ke dalam
pelukannya. Mukanya sangat dekat denganku, bibirnya mulai
mengarah.....dan bibirku mulai mengarah tepat ke arah bibirnya.....dan
kami berciuman. Aku merasa seperti di dalam mimpi, aku berhasil
mencium Tante Yok !!!!!! Dunia harus tahu aku telah berhasil mencium
wanita yang begitu aku nafsui ini Oh..Oh...Oh... Mulutnya terasa
hangat, basah.... Bibirnya mulai bergerak dengan liar...mengulum bibir
aku. Lidahnya mulai keluar dari sarangnya dan mencari lidahku. Hup !!
Lidah aku tertangkap, lalu dengan tak kenal ampun dikulumnya lidahku,
ditariknya masuk ke dalam rongga mulutnya sehingga mulut kami seolah-
olah telah menjadi satu. Aku mencoba menarik lidahnya, ia
mempertahankan .....aku tarik....ia bertahan.....bertahan.....Aaaahh
!!! dengan menjerit ia menyerah dan membiarkan aku mulai mengulum
lidahnya, menjilati langit- langit mulutnya, sementara bibir aku dan
bibirnya saling melumat dan mengunyah....Entah berapa lama aku dan
Tante Yok berciuman, namun jelas itu merupakan ciuman yang tak
terlukiskan nikmatnya.

Ketika bibir kami berpisah dengan suatu bunyi yang sangat keras tanda
bahwa kami telah 'mengelemnya' dengan sangat erat, Tante Yok
memandangku dengan nanar.."Barry, bahkan Oom Rudi pun nggak sanggup
mencium Tante seperti itu..", ia merahupku kembali dan kembali kami
berciuman dengan ganasnya, saling menyerang, mengulum, menjilat,
menggigit. Ku lumatkan bibirnya hingga Tante Yok mengerang-
ngerang.....Enghh....enghhh, ketika aku lengah ia yang menjadi agresor
dengan melumatkan mulutku dan intervensi dalam rongga mulutku. Tiba-
tiba ia menyemprotkan ludahnya kepada aku dan tanpa pikir panjang aku
langsung kumur-kumur dan aku telan...Duh ludahnyapun terasa begitu
hangat dan nikmat.

Selesai berciuman Tante Yok bergerak menggerayangi badan aku dan mulai
menggerayangi pakaianku. Dengan penuh pengalaman ia membuka kaos tidur
aku, dan menjerit senang melihat tubuh telanjang aku. Lalu dengan
lincah pula Tanteku yang montok dan sintal ini membuka celana pendek
tidurku, tapi ia tidak membuka celana dalamku. Kini aku seperti
'tarsan' di hadapannya, hanya dengan sebuah cawat di hadapan wanita
matang. Aku merasa risih karena baru sekali itu ada seorang wanita
(Tante Yok lagi !) melihat aku hampir telanjang bulat. Tapi sungguh
Tante Yok memang pinter, ia langsung memunggungi aku dan dengan
mendesah ia berkata,"Bukain baju Tante dong Barry....". Dengan sedikit
gemetar aku membuka daster tidurnya, dan meluncurlan daster tidur itu
menuruni tubuhnya yang putih itu. Darahku serasa naik ke kepala.
Inilah pemandangan yang ku lihat tadi sore, tapi tadi sore jauh
sekarang amat dekat dan rasanya tubuh Tante Yok itu sekarang begitu
mantab, montok, padat, pahanya kencang dan putih mulus, perutnya
memang agak buncit sehingga pinggulnya agak besar seperti layaknya
wanita yang hampir paro baya tapi buatku itulah yang asyik dan
menggairahkan karena pinggul itu sudah berpengalaman......

Tiba-tiba Tante Yok berbalik sehingga aku tidak sempat untuk
melepaskan asesorinya yang lain. Ia tersenyum dan berkata lembut penuh
sayang pada aku,"Nanti ada waktunya Barry..., sekarang kita ciuman
lagi yuk, Tante seneng dech dicium kamu...."
Aku mengangguk dan Tante Yok segera kupegang kepalanya, mengarahkan
mulutnya kepada mulutku dan mulailah kami berciuman kembali. Kali ini
lebih panas karena kami sudah setengah telanjang. Aku merasakan
kulitnya yang mulus, punggungnya yang bersih dan tangannya
menggerayangi dada aku....perut....pusar dan...agggh !!! tangan Tante
Yok dengan nakalnya memegang penisku dengan perantaraan celana dalam
aku dan terus meremasnya.
"OOOggh...Akkkhhhh..Eeennnggkh....Barrryyy....Adduhh.., besar ya.."
Tante Yok mengerang, sementara aku kegelian karena Tante Yok
meremasnya dengan sangat berpengalaman (mungkin Oom Rudi juga sering
diginiin sama Tante Yok kalo mereka lagi ngentot ya ?.
"Tante...aduh Tannnntee !!!!...eeenngkh..."Aku mengerang. Tante Yok
ketawa lagi dan mulai mencium aku lagi dan kali ini aku nggak mau
kalah dari dia, tangan aku juga belajar nggrayangin tubuhnya
dia...Aduh mak perutnya aku pegang, bulet gede mulus lho, pusernya aku
korek-korek, waktu pas mau aku remas dadanya, dia pegang tangan aku
dan dia lihat aku,"Kalau mau pegang musti bisa cium tante sampe tante
minta ampun dulu...Bikin tante menjerit minta ampun sama Barry.."Tante
Yok nantang. Langsung kali ini tanpa ragu aku pagut bibirnya dan
mulaiku kulum, lumat dan kuhisap aroma mulutnya. Ngelumatnya aku
panjang-panjang, aku tarik lidahnya... aku sedot air ludahnya. Tante
Yok cuma ngerang biasa !!! Aku nggak mau nyerah, aku percepat
frekwensi ngelumatnya aku, lidahku mulai ku ulur hingga hampir nyampai
kerongkongannya.. "AAAuuughhh..!!! " Tante Yok menjerit...
"Adduuuhh... Barrryyyy..,ampun....ookkhh"Ia menjerit keenakan dan
kesenangan, dan dengan begitu aku mendapat 'pass' untuk
menggerayanginya.

Tante Yok tersenyum, dan dengan sedikit serak ia berkata,"Kamu benar-
benar hebat Barry...Oom Rudi sendiri nggak bakal bisa nandingin
kamu......Kamu pantas untuk menikmati susu tante". Ia berdiri dan
tangannya bergerak ke belakang, melepas tali BH nya!!!!!! Kemudian dia
diam menunggu inisiatif dariku. Ia tersenyum manis dan dikedipkan
sebelah matanya menggodaku. Aduh mak aku gemetar saat itu, aku belum
pernah melihat buah dada telanjang Tante Yok, dan memang aku impikan
itu, tapi sekarang begitu Tante Yok mau ngasih lihat aku jadi ngeri
juga, tapi ngelihat senyumnya yang malam itu rasanya memabukkan aku
jadi berani. Dengan deg-degan aku menarik tali BH yang sudah kendor
itu dan melucutinya ke bawah diiringi dengan senyum yang menawan dari
Tante Yok. Tante Yok membantu mempermudah pelepasan itu, dan entah
kemana BH itu terbang aku tidak peduli karena kini ada satu
pemandangan indah yang selalu aku impikan. Buah dada telanjang milik
Tante Yok !!!! Buah dadanya ukurannya sedang, putingnya coklat agak
kehitaman dan berkeriput, menonjol keluar. Buah dadanya tegak keras
menanti untuk diemut. Aku melihat kepada Tante Yok minta ijin dan
dengan anggukan dan senyuman manis ia berkata,"Nikmati hakmu Barry
sayang..." Aduh aku dipanggil sayang oleh Tante Yok ! Keraguan aku
hilang dan dengan hati penuh gelora aku mulai mengarahkan kepalaku ke
dada Tante Yok.

Tante Yok membaringkan dirinya sehingga dengan leluasa aku mulai
'mendaki bukit Tante Yok'. Bukit sebelah kanan mulai ku jelajahi
lereng-lerengnya sementara putingnya bergerak-gerak menggelitiki
hidung, mata, dahi karena aku memutari lereng itu, dan pada puncaknya
ku emut puting buah dada Tante Yok dan mulai mengulumnya, belajar
untuk menghisapnya. Tante Yok menjerit kenikmatan, meneriakkan nama ku
berulangkali sambil terengah-engah seksi. Rasa putingnya itu manis-
manis dan kenyal, sehingga aku terus mengulumnya sementara tanganku
mengeksplorasi buah dada Tante Yok yang sebelah kiri. Kemudian dengan
gerakan cepat aku berpindah ke puting susu Tante Yok yang sebelah kiri
dan mulai mengulumnya kembali dengan penuh cinta dan nasfu birahi. Aku
sungguh merasa beruntung mendapat kesempatan ini, aku selalu
memimpikan Tante Yok dan kini aku telah berhasil menyetubuhinya
meskipun aku belum tahu apakah aku bisa menikamti permainan cinta
dengan tante Yok ini sepenuhnya seperti yang Oom Rudi perbuat.

Tak lupa kuciumi pula kedua ketiaknya yang sangat seksi dengan bulu-
bulu hitam yang sangat lebat itu. Ketiaknya berbau harum dan bulu-
bulunya yang keriting menggelitik hidungku. Ketika aku mulai menjilati
ketiaknya, tante Yok menggelinjang kegelian sambil mendesah-desah
sambil menggigiti bibirnya dan kadangkala melenguh memanggil namaku.

Sekitar 20 menit aku bermain dengan susu dan ketiak tante Yok, lalu
aku mencari mulut Tante Yok, aku rindu untuk mengulumnya kembali. Aku
menggeser badanku dan kini aku mengangkangi Tante Yok, aku menindih
Tante Yok ! tapi masih ada penghambat untuk masuk yaitu celana dalam
kami berdua. Aku melihat wajahnya dan mulai mengulum bibirnya kembali.
Tante Yok membalas dengan penuh semangat dan terus memelukku,
memegangi kepalaku seolah takut terlepas. Ciuman penuh cinta itu
kembali kami lakukan, saling menarik, mengulum, melempar ludah,
menjilati rongga mulut, hingga rasanya aku tahu betul rasanya mulut
Tante Yok.

"Barry,....Rasanya Tante rela kalau kamu Tante kasih seluruhnya, kamu
memang pandai dan cepat belajar...." Tante Yok berbisik mesra padaku
setelah kami berciuman selama hampir setengah jam sehingga nafas kami
terengah-engah karena ciuman kami yang penuh birahi itu. "Maksud Tante
apa ?" aku bertanya sambil terus memandangi Tante Yok yang sudah
memberikan segalanya buat aku ini. "Tadinya Tante pikir cuma sampai di
sini aja, cukup biar kamu tahu dan puas. Tapi Tante jadi sayang sama
kamu Barry, rasanya kamu perlu dikasih sampai selesai...." Tante Yok
menjawab dengan lirih. "Maksud Tante sampai...." belum selesai aku
berbicara Tante Yok sudah mengulum mulut aku lagi dengan penuh cinta,
begitu lembut dan nikmat. "Betul Barry... Tante pingin supaya kamu
tahu diri Tante sampai yang sedalam-dalamnya, dan tahu gimana rasanya
orang bersanggama". "Oom Rudi gimana Tante ?" aku nanya. "Yach, kamu
nggak usah pikir itu, pokoknya tetap asal kamu janji diam, ini akan
jadi rahasia kita berdua, mau ?" Tante Yok melihat pada aku. Aku diam,
rasanya sich kepingin, aku memang sudah lama ngimpiin untuk
bersanggama dengan Tante Yok. Tapi setelah Tante Yok sendiri yang
nawarin aku jadi ngeri dengan konsekwensinya.

Seolah tahu keraguan aku Tante Yok mencium aku lagi dan mulai
menggerayangiku lagi. Aku mulai memberikan balasan, namun Tante Yok
tidak berlama-lama, Tante Yok mengangkangiku, menindihku dan langsung
bergerak ke pangkal pahaku dan dengan cepat membuka benteng
pertahananku, sehingga batang kemaluanku mencuat keluar dengan tegak.
Aku terpesona oleh tindakan Tante Yok dan sebelum sadar sepenuhnya,
Tante Yok mulai mengulum kemaluanku dengan mulutnya !!!! Dia hisap dan
dia sedot perkahan-lahan dan aku merasakan nikmat yang luarbiasa, tak
tahan aku untuk tidak menjerit,"Akkhhhhh..... Aduhhh... Hohkh....
Yok..... Yok........... Ookh.. Yok.. Yok sayang.. MMMmhhh... OOkh
YYYooooooookk!!!... Yyooooooooooooooooooook !" Kini aku baru tahu
kenapa Oom Rudi suka mengajak tante Yok ke Surabaya jika keadaan
memungkinkan. Bener-bener luar biasa Tante Yok ini. Mulutnya yang
ranum itu terus mengulum kemaluanku, menghisapnya dengan sangat ahli
sambil sedikit diemut-emut dan digigit.

Tiba-tiba ia berhenti dan sebagai gantinya ia menjilati seluruh
selangkanganku, pantatku dengan lidahnya. Setelah selesai ia naik
menggeser tubuhnya di atas aku. Oh aku langsung menariknya dan
langsung menghujaninya mulutnya dengan ciuman-ciuman birahi. Ia
membalas dan kami kembali larut dalam kulum-kuluman itu. Mulut kami
sudah saling mengerti, mulut Yok, mulut Barry.

Setelah nafas kami hampir habis dengan terengah-engah Tante Yok
berkata, "Sekarang Barry,... jilati selangkangan tante yang Tante udah
buat terhadap kamu....Ayo Barry jangan takut....." Tante Yok memintaku
untuk mulai beraksi. Aku bangun dan mengamati tubuh Tante Yok dan aku
merandek, ngeri. Aku melihat Tante Yok mebuka pahanya, paha yang putih
mulus dan menjadi santapan mataku (dan pria lain yang normal). Kini
paha putih mulus itu cuma dibatasi selembar kain celana dalam dan di
balik celana dalam itu menanti kenikmatan dunia untuk aku reguk. Aku
melihat kepada Tante Yok minta dukungannya, dan kembali Tante Yok
tersenyum lembut bagai bidadari menguatkan hatiku. "Ayo Barry, tarik
celana Tante, Tante bantu lepasin..". Aku mulai menarik celana itu dan
Tante Yok mengangkat pinggangnya yang besar itu untuk mempermudah
melepas celananya. Celana itu sudah terbuka !!!!! Kini dihadapan aku
berbaring Tante Yok dalam keadaan 100 % bugil, Tante Yok yang selalu
menjadi impianku, kini berbaring telanjang bulat di hadapan aku yang
juga telanjang bulat!. Pandangan mataku menggerayangi vaginanya. Oh
luar biasa ! Di pangkal pahanya yang besar dan putih itu ada seonggok
rambut hitam ikal dengan lebatnya memenuhi pangkal paha tante Yok.
Begitu lebatnya hingga bulu-bulu itu tersebar hingga ke daerah sekitar
bawah pusar Tante yok. Pusat onggokan bulu itu melindungi satu rongga
yang tertutup seperti mulut dalam posisi berdiri. Darahku serasa
berhenti berjalan melihat itu. "Barryyyy... ayoooo... cobain dong..! "
Tante Yok memekik manja melihat aku hanya diam saja. "Njilat Barry....
Kamu pernah makan es krim khan, jilatin Barry.....Ini es krim yang
paling enak, Barry.." Tante Yok berkata membuat aku semakin terpana.

Perlahan-lahan kepalaku mulai tunduk dan tangan aku mengunci lutut
Tante Yok dan kepalaku mulai merasuk melalui pahanya yang selalu ku
idamkan itu. Oh pahanya mulus dan hangat..terus naik.....terus
naik.....hingga akhirnya aku hampir tiba di tujuan dan ikatan tanganku
pada dengkulnya lepas lalu dengan attraktif Tante Yok membuka kakinya
dan mempersilahkan aku untuk terus. Aku mulai mendaki dan mendaki
hingga kini kepalaku menggantikan posisi celana dalam Tante Yok yang
terbuang entah ke mana. Aku merasakan bulu-bulu halus menggelitik aku,
tapi aku nggak perduli. Selangkangan Tante Yok ini benar-benar luar
biasa ! Vaginanya aku emut seperti aku makan es krim dan benar rasanya
asin, berbau khas selangkangan, agak bau oleh cairan dari dalam
vaginanya, hangat dan basah. Aku emut terus dan tiba-tiba aku
mendapatkan ide bahwa aku dapat mencium 'bibir' Tante Yok ini. Aku
miringkan kepala aku dan aku mulai mengaggresi lidah aku masuk 'mulut'
bawah Tante Yok ini dan mulai mencicipi hangatnya 'kerongkongan'Tante
Yok ini. Ada satu 'lidah' panjang dan bulat berada pada 'rongga mulut'
Tante Yok dan tanpa pikir panjang aku segera menangkapnya,
menjilatnya, menghisap dan mengulum serta menggigitinya dengan penuh
cinta. Ternyata perbuatanku itu membuat Tante Yok Bergelinjang dengan
hebatnya membuat 'ciuman' kami makin masuk dan dengan tangannya ia
menekan kepala aku untuk terus mencium 'mulutnya' itu. Tante Yok sudah
berteriak-teriak tanpa kendali, begitu liar tapi sangat merangsang dan
membuat aku makin bersemangat,
"Baaaaaaaaaaaarrrrrryyyyyyyyyyhhhh............. !!!! !!!.......
AAAAkkkkhhhh!!... Addduuuddduuuhhhh.... OOOOhhhhh!!! Barry ! Barry!
Barry!......... ohhhhhh... Barrrr.....
hhhaaaakghggh.............sayanggggggg... OOohhh BBarryyy
sayaaaannngg...!!!!!!!!!!!!!!!" Begitu dia berteriak, sementara
'lidahnya' makin aku mesrai dan kini lidah itu mengluarkan 'ludah'
lendir yang hangat, agak asin dan agak berbau khas tapi justru di situ
letak kenikmatannya. Aku minum 'ludah' itu, tapi tidak dapat aku minum
semuanya sehingga sebagian mengalir membasahi daerah 'mulut dan hutan'
di selangkangan Tante Yok ini. Aku merasa belum puas, selangkangan
Tante Yok ini selalu aku impi-impikan, aku selalu berpikir kalau Oom
Rudi belum pernah mencoba seperti aku ini, dia rugi. Selangkangan
Tante Yok ini tidak ada tandingannya, nikmat tiada tara, vaginanya,
klentitnya, aduh semuanya itu aku impikan dan sekarang kesempatan itu.
Aku rahup selangkangannya sekali lagi, kini tanpa ragu-ragu, aku hisap
seluruhnya, aku jilati seperti induk kucing menjilati anaknya. Bulu-
bulu lebat vaginanya sudah basah, 'mulut' Tante Yok pun sudah becek
dan licin....Tiba-tiba Tante Yok memanggil aku. Akupun naik
menemuinya."Kamu senang Barry ? Kamu puas ?" Tante Yok bertanya sambil
tersenyum. "Sangat ..TTanntee... Yok" ,jawabku terbata-bata. "Luar
biasa kamu, Oom Rudipun nggak pernah bisa bikin Tante kaya begitu
Barry.....Sekarang entotin Tante ya..... Barry siap ?" Tante Yok
mendesah dan memandangku dengan pandangan yang bisa membuat lelaki
normal manapun serasa berada di kahyangan. Hk ! Kini saat yang aku
impikan. Setelah puas menggerayangi tubuh Tante Yok kini tiba saatnya
Tante Yok memberikan ijin untuk bersanggama dengan dia. Sebelum aku
dapat berkata-kata lebih lanjut, tante Yok meneruskan omongannya,
"Tapi kamu harus ingat, nanti waktu Barry masukin penis Barry ke
Tante, maka Barry boleh ucapkan selamat tinggal sama status perjaka
Barry.." kata Tante Yok tersenyum mesra kepadaku. "Kamu rela nggak
kalo Tante yang melepas keperjakaan kamu ? ". Lidah aku saat itu
kelu..Apa lagi yang dapat aku katakan ? Memang itulah keinginan aku
selama ini ! Aku sungguh-sungguh ingin diperjakai oleh tante Yok, dan
inilah kesempatan aku. Aku hanya mengangguk-angguk dengan penuh
semangat sambil menatap mata indah milik tante Yok. Rupanya tante Yok
mengerti suasana, ia tersenyum lembut keibuan dan memeluk aku.
Kemudian dia mencium aku dengan mesra sambil berbisik pelan ,"Jangan
takut Barry, Tante juga bahagia sekali bisa membantu kamu menjadi
lelaki dewasa. Kamu nggak akan menyesal sudah mengambil keputusan
ini...". Lalu ia kembali menciumku dengan mesra dan mengulum lidahku
dengan penuh nafsu.

Setelah itu Tante Yok mengambil posisi berbaring celentang dan
menyuruh aku untuk mengangkangi dia. Dengan kedua belah tangannya
Tante Yok membantu penis aku untuk melakukan penetrasi sedangakan dua
tangan aku berusaha menahan bobot tubuh aku supaya tetap ada jarak.
OOOOhhhhh....dengan bantuan Tante Yok penis aku menemukan jalan dan
bles ! penis aku tenggelam dalam selangkangan Tante Yok tanpa ampun
lagi. Baik aku dan Tante Yok menjerit kesenangan dan keenakkan. Betuk-
betul enak, aku nggak pernah bayangin bahwa bersanggama dengan
perempuan begini enak - pantas saja begitu banyak orang ngebet pengin
kawin. Rasanya seluruh badan aku jadi badan dia dan seluruh badan
Tante Yok jadi badanku. Kami jadi satu tubuh dan berpadu seolah-olah
kami tidak dapat terpisahkan lagi. Tubuh Tante Yok bergerak liar,
pinggulnya menari-nari sementara badan aku menjadi terayun-ayun bagai
ayunan. Aku menusuk Tante Yok dan menggenjotnya untuk mengimbangi
tariannya. "Tannnteehh.. Yyyyoookk.. gimana.. audhdhu... nich......
Tannntteee yyyookk.. aku mau keluar.... adduhh....!!!!" aku menjerit
cemas tatkala tahu bahwa aku tidak dapat mengkontrol lagi kehendak
penisku. Tapi dalam erangannya Tante Yok malah mengencangkan ikatan
selangkangannya sehingga kami tidak mungkin lagi terpisah karena
pahanya mengunci pahaku,
"hh... hh.. hh.. hh.. AHHHHhhh.... biar Barry.... biar Yang..
biaaaaarrrhhhhh... oooooaaghhh.....!!!!! " Tante Yok mendesis hebat
dan akupun merasakan gelombang itu datang. Tante Yok memeluk aku erat
dan akupun memeluknya erat-erat. Kami takut terpisah !!!! Kami
berciuman dengan panas dan gelombang itu datang melanda kami berdua.
Aku menyemprotkan spermaku di dalam liang vaginanya Tante Yok. Tante
Yok berteriak kesenangan dan keenakkan demikian juga aku...oohh
klimaks yang aku impikan itu terjadi. Aku telah menyetubuhi Tante Yok,
tanpa kecuali dan aku bahagia dan aku yakin Tante Yok pun bahagia. Ia
mengucapkannya berkali-kali sambil mendesah di telingaku. Kami
tertidur tanpa saling melepaskan tubuh kami. Kami tidur berperlukan
dan tetap dalam posisi sanggama kami, sementara hujan masih cukup
deras di luar. Aku memeluk tante Yok dan kepalanya bersandar di dadaku
sepanjang malam yang indah ini. Aku melihat tante Yok tidur dalam
pelukanku sambil tersenyum - membuatku tambah bahagia karena telah
memberikan kebahagiaan juga kepada tante Yok. Malam ini aku telah
menjadi lelaki dewasa, dan Tante Yok lah yang melepaskan keperjakaan
aku. Dan aku tidak menyesal dengan keputusanku karena aku memang
menginginkan bersanggama dengan tante Yok dan memang sungguh-sungguh
berharap bahwa dialah yang memperjakai aku. Pengalaman pertamaku ini
akan selalu kuingat dan kini kubagikan juga kepada teman-teman pecinta
CCS.

Apakah rekan-rekan pembaca punya tanggapan atau komentar ? Tolong
layangkan surat teman-teman ke e-mail aku : wardoyo@n...

Jika teman2-teman menghendaki, aku akan teruskan ceritaku dengan tante
Yok ini di lain kesempatan.

0 komentar:

Poskan Komentar