Rabu, 26 Agustus 2009

Ketika Duda bertemu Janda - bagian 2

Waktu pertama kali kenal dengan Maryati, aku tak pernah punya pretensi
untuk menjadi orang terdekatnya. Terus terang aku memang menyukainya,
tapi hanya berani sebatas mengaguminya saja. Apalagi waktu itu aku
dengar ia sedang menjalin hubungan dengan manajer sebuah perusahaan
asing, seorang ekspatriat. Jadi aku pikir ia punya selera 'bule' dan
aku merasa tidak masuk dalam hitungannya.

Sampai suatu ketika, pada suatu malam, sehabis kami ketemu dalam
sebuah acara dinner party, ia memintaku untuk mengantarnya pulang.
Kebetulan saat itu ia tak bawa mobil karena sedang masuk bengkel.
Sebagai teman, dan juga sebagai lelaki, aku tentu saja tak bisa
menolak permintaannya.

Selama perjalanan menuju rumahnya, kami ngobrol kesana kemari. Saat
masih berada di mobil, entah dalam konteks apa kami bicara, tiba-tiba
kami terlibat dalam obrolan yang akhirnya kelak mengarah pada sebuah
hubungan yang makin akrab.

"...apakah Mas Is nggak pernah merasa kesepian?" itu pertanyaan
pribadinya yang pertama kuingat. Pandangannya tetap lurus ke depan
kaca mobil.

"Yah, namanya juga sendiri" aku menjawab sekenanya, setelah sebelumnya
agak gelagapan menerima pertanyaan yang agak sensitif itu,
"Memang kenapa?" aku mulai berani memancing.

"Ya tidak apa-apa, cuma nanya saja kok. Nggak boleh?"
"Boleh..."

Ada beberapa saat kemudian kami saling terdiam. Lalu,

"Dik Mar sendiri bagaimana?"
"Ya, sama...."
"Sama bagaimana?"
"Ya sama. Kadang-kadang merasa sepi juga..."
"Lho, katanya sedang dekat sama Mister...."
"Kata siapa?" katanya memotong seolah memprotes omonganku.
"Ya, saya hanya dengar-dengar saja"
"Gosip itu Mas!"
"Bener juga nggak pa-pa kok"
"Mas Is percaya?"

Aku diam saja, lalu,"Saya percaya. Karena orang seperti Dik Mar pasti
banyak yang suka dan mudah kalau mau cari teman"

"Kalau asal cari teman sih memang gampang. Tapi yang cocok? Sulit!"
"Masak nggak ada satu pun yang cocok? Memang cari yang seperti apa?"

Maryati tertawa dan menyahut cepat,"Yang seperti Mas Iskandar!"

Aku tertawa meski agak terkejut juga dan sedikit GR dengan ucapannya.
Tapi aku lalu menganggap dia hanya bercanda dan aku pun lalu
menanggapi dengan bercanda juga.

"Wah, saya sih jauh kalau dibandingkan sama Mister ...."
"Tuh kan!. Dibilang itu cuma gosip, nggak percaya!" ia memotong
kalimatku.
"Iya deh, percaya..."
"Lagipula, dia bukan tipe saya," nadanya agak menurun,"Saya lebih suka
tipe laki-laki yang kalem, tenang ...tapi mature....seperti Mas
Is...."

Kali ini aku tidak lagi menganggap dia sedang bercanda. Karena ia
mengucapkan kalimat itu dengan nada yang terjaga dan kemudian menoleh
ke arahku sambil tersenyum. Aku jadi nervous. Aku ikut tersenyum dan
spontan menghela nafas. Aku menoleh ke arahnya dan ia masih tersenyum
tapi kini wajahnya agak tertunduk.

"Dik...." aku mencoba memanggilnya, seolah ingin mendapat
penegasan."Ya, Mas..." ia menjawab dan menatap ke arahku, lalu
tersenyum.

Dari sikap dan ekspresi wajahnya, aku berusaha meyakinkan diriku
sendiri sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya.
Dan ia diam saja. Bahkan kemudian membalas remasan tanganku....

Itulah peristiwa yang mengukuhkan hubunganku dengan Maryati. Malam itu
aku hanya mengantarnya sampai depan pintu pagar saja. Menjabat
tangannya. Tak lebih dari itu. Tapi aku bahagia. Dan aku yakin ia juga
bahagia.

Ketika sampai di rumah, aku langsung menelponnya. Ada kurang lebih
satu jam lamanya kami ngobrol, saling mengungkapkan perasaan kami
berdua selama ini. Selanjutnya kami rajin saling menelepon dan
mengadakan pertemuan demi pertemuan, mulai dari makan siang, belanja,
nonton atau jalan-jalan.

Aku pertama kali menciumnya waktu berada di bioskop. Tapi suasana
waktu itu kurang mendukung untuk bercumbu secara total. Karena kami
dalam posisi duduk berjejer, maka kami hanya bisa saling meraba,
menyentuh dan sesekali berciuman. Bila aku memegang atau menyentuh
bagian tertentu tubuhnya, ia akan diam saja. Demikian sebaliknya.
Beberapa kali kami sempat berciuman, meski tak sempat lama. Tapi kami
cukup menikmati kencan di bioskop saat itu. Bahkan tanganku sempat
menelusup masuk ke celah roknya tapi hanya bisa mengelus-elus pahanya
saja, karena saat itu rok yang dikenakan Maryati agak panjang.
Sementara tangan Maryati relatif lebih bebas menyentuhku. Tapi ia
benar-benar hanya menyentuh saja, meski sesekali memberi pijitan pada
bagian depan celanaku yang menonjol karena isinya sedang menegang.
Aku sebenarnya mengharap ia melakukannya lebih dari itu. Tapi lagi-
lagi, suasana bioskop saat itu tak terlalu mendukung.

Baru pada kesempatan kedua kami sempat bercumbu cukup panas.
Kesempatannya terjadi waktu aku berkunjung ke kantornya dan masuk ke
ruangan kerjanya. Ketika itu ia minta ijin sebentar untuk ke toilet
pribadinya, aku segera menyusulnya dan kami lalu berciuman di lorong
menuju ke arah toilet itu.

Kami lalu berciuman dengan penuh gairah. Saat itulah pertama kali aku
benar-benar bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibirnya. Sudah
lama kami tak melakukan percumbuan seperti ini. Sehingga nafas kami
terdengar memburu dan kami berciuman dengan 'lahap'nya. Dan karena
suasananya agak mendukung, aku pun berani menjamah bagian-bagian
tubuhnya yang sensitif terutama dada dan pantatnya yang selama ini
hanya bisa kupandang. Maryati pun juga mulai berani meremasi milikku
yang sudah mengeras dari balik celana pantalon yang kukenakan. Aku
lalu membalasnya dengan menekankan telapak tanganku ke celah pahanya
yang tertutup rok kantor dan meremasi bagian yang ada di sana. Meski
begitu, kami tetap tak bisa leluasa untuk melakukan hal-hal yang lebih
jauh. Karena bisa saja sewaktu-waktu ada karyawan yang akan masuk
sementara kami dalam keadaan kusut masai. Jadi kami tetap harus
menjaga semua ini. Tapi setidak-tidaknya kami bisa saling meluapkan
kerinduan kami dengan bercumbu sambil saling menyentuh.

Pada pertemuan di kantor itulah aku mencoba mengajaknya untuk suatu
saat berkencan 'lebih jauh' di suatu tempat yang lebih leluasa untuk
melakukannya. Maryati tidak mengiyakan atau menolak ajakanku. Ia hanya
menunjukkan sikap dan jawaban yang tampaknya masih hati-hati dan perlu
waktu untuk memikirkannya. Dan aku menghargai sikapnya itu. Sampai
akhirnya aku berhasil membawanya pergi ke Puncak sebagaimana telah
kuceritakan pada bagian pertama.


Seminggu setelah kejadian di Puncak

Kini hubungan kami sudah semakin dekat. Kencan lebih banyak kami
lakukan di luar rumah. Karena bagaimana pun, status kami sebagai
sebagai duda dan janda sedikit banyak pasti mendapat sorotan
tersendiri di lingkungan kami masing-masing. Jadi aku dan Maryati
harus bisa menjaga hubungan ini agar tak terlalu menyolok. Untuk itu
aku lebih senang kalau Maryati saja yang bertandang ke rumahku,
daripada aku yang harus ke rumahnya. Hal ini untuk menjaga kesan bagi
diri Maryati sebagai seorang janda, di samping karena lingkunganku
juga relatif lebih 'aman'. Beberapa kali ia sempat menginap di
rumahku. Sementara aku baru dua kali menginap di rumahnya.

Pertama kali Maryati kuajak ke rumahku adalah sehabis aku mengantarnya
jalan-jalan membeli arloji, kira-kira seminggu setelah kejadian di
Puncak. Berhubung waktu pulang hujan cukup lebat, aku harus mengambil
jalan memutar yang cukup jauh menuju rumahnya untuk menghindari
wilayah yang biasanya banjir. Kebetulan jalan yang harus kuambil
melewati jalan menuju kompleks rumahku. Maka daripada tanggung, aku
menyarankan Maryati untuk mampir sebentar.

"Lama juga nggak pa-pa" katanya menggoda.
"Jangan ah...! Takut..!" sahutku gantian menggodanya.
"Takut apa?!"
"Takut tidak terjadi apa-apa...haha..ha.."
"Iiihh...dasar!" sambil tangannya mencubit pahaku. Aku berteriak,
meskipun cubitannya tidak sakit.
"Cubit yang lainnya dong..." aku menggodanya lagi.
"Maunya!"

Tapi tangannya kemudian terulur ke arah selangkanganku dan mulai
menarik resleting celana jeansku ke bawah. Masih dalam posisi
menyetir, aku segera mengatur posisi dudukku agar ia bisa leluasa
membuka celanaku. Dalam sekejap milikku sudah terjulur keluar dari
celah atas celana dalamku. Milikku mulai membesar tapi belum tegang.

Tangan kanan Maryati lalu mulai beraksi meremas dan memijit-mijit.
Maka segera pula otot pejal kebanggaanku itu mulai bangun berdiri. Aku
berusaha berkonsentrasi dengan setir mobil. Apalagi di luar sana hujan
makin lebat. Wiper yang bergerak-gerak seperti tak mampu menahan air
hujan yang turun meleleh di kaca depan. Sebagaimana aku tak dapat
menahan rasa geli yang mulai muncul ketika tangan Maryati pelan-pelan
mulai mengocok. Batangku dijepitnya hanya dengan menggunakan jempol
dan jari tengahnya. Lalu dengan cara seperti itu ia membuat gerakan
memijit dan mengocok bergantian.

"Digenggam dong..." kataku menuntut.
"Tadi katanya minta dicubit" jawabnya sambil melakukan gerakan
mencubit pelan pada pangkal kemaluanku yang kini sudah mengeras.
Membuatku menggelinjang.

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ya sudah, aku nikmati saja apa
yang dilakukan. Bahkan aku kemudian menjulurkan tangan kiriku ke arah
buah dadanya yang terbungkus blus tanpa kancing, sementara tangan
kananku tetap memegang kemudi. Kurasakan buah dadanya sudah mengeras
kencang. Aku makin bernafsu meremasnya. Maka mulailah acara saling
meremas dan memijit, di dalam mobil, di tengah hujan deras....

Tampaknya Maryati mulai terangsang dengan gerayangan tanganku pada
buah dadanya. Ia memintaku untuk melakukannya di bagian tubuhnya yang
lain, ketika tangannya tiba-tiba menuntun jariku menuju ke sela-sela
pahanya yang sengaja dibukanya agak lebar. Roknya sudah ia tarik ke
atas sebatas pinggul. Maka jari-jari tangan kiriku pun segera beraksi
di bagian depan celana dalamnya yang menyembul hangat dan sudah mulai
lembab itu.

Pandanganku tetap harus ke depan, ke arah jalan yang mulai masuk ke
kompleks rumahku. Sedangkan Maryati bisa dengan enaknya menggeliat-
geliat sambil mendongakkan kepalanya menikmati gelitikan jariku pada
bagian luar cd-nya tepat di bagian celah vaginanya. Sementara tangan
kanannya kini tak lagi memijit-mijit, tapi sudah menggenggam rudalku
yang makin meradang karena terus dikocok-kocok olehnya.

Aku menarik tanganku dari sela paha Maryati ketika mobil sudah mulai
masuk ke jalan menuju rumahku. Maryati sempat mendesah ketika aku
menghentikan aksiku.

"Sudah sampai..." kataku memberi alasan sekaligus mengingatkan dia.

Ia segera membenahi pakaiannya dan kemudian gantian memberesi celanaku
yang sudah setengah terbuka. Kemaluanku yang belum sepenuhnya lemas,
agak sulit untuk 'dibungkus' kembali.

"Bandel nih!" gerutu Maryati
"Gede sih...hehehe..."aku ketawa melihatnya kesulitan memasukkan
batang kemaluanku kembali ke celana,"Sudah biarin, nanti juga kan
dikeluarin" lanjutku

Maryati lalu kusuruh turun duluan menuju teras. Aku kemudian
memasukkan mobil ke garasi, membetulkan celanaku dan kemudian bergegas
keluar garasi menuju teras menyusul Maryati yang rambut dan pakaiannya
terlihat agak basah oleh air hujan.

Kami lalu segera masuk ke dalam rumah. Inilah pertama kali Maryati
berkunjung ke kediamanku. Ia agak sedikit canggung dan terlihat kurang
nyaman ketika berada di ruang tamu. Apalagi kondisi tubuhnya agak
basah oleh air hujan. Blusnya yang basah menampakkan bagian gumpalan
dadanya yang sedikit menyembul dari BH yang dikenakannya. Aku kembali
terangsang melihat pemandangan itu. Segera kupeluk tubuhnya dan kami
pun lalu tenggelam dalam ciuman yang bergelora.

Birahi kami memanas kembali. Ciuman pun berkembang menjadi acara
saling meremas. Saling menekan. Saling merangsang. Kami berdua lalu
membantu melepasi pakaian satu sama lain dan membiarkannya terserak di
lantai ruang tamu. Tubuh telanjang kami pun menempel makin lekat.

"Di sini saja...." katanya ketika aku akan menariknya untuk masuk ke
kamar tidur.

Kami kemudian memilih sofa ruang tamu sebagai tempat 'main'. Di luar
hujan masih turun dengan derasnya. Suara tempaan airnya menyamarkan
desahan dan lenguhan yang keluar dari mulut kami berdua. Tubuh bugil
kami bergelut dengan penuh gairah di atas sofa tamu itu.

Beberapa saat kemudian Maryati meminta ijinku untuk melakukan oral
seks. Tentu saja kuijinkan. Ia memang senang dengan milikku yang
katanya punya ukuran gede terutama di bagian kepalanya. Sehingga ia
senang sekali melamuti dan mengisap bagian kepala kemaluanku yang kini
terlihat bulat membonggol dan tampak licin mengkilat akibat lumuran
ludahnya.

Selama ia melakukan permainan mulut, aku berusaha mengimbanginya
dengan merangsang vaginanya dengan jariku. Saat itu posisiku setengah
rebahan dan menyandarkan kepalaku pada sandaran sofa. Sedangkan
Maryati berbaring miring setengah telungkup di samping pinggangku. Ia
menggeliat ketika jari tengahku mulai menerobos masuk ke celah
miliknya, sementara jempolku bermain-main pada kelentitnya.

"Ouu..." jeritnya tertahan
"Kenapa...? enak...?" tanyaku sambil menusukkan jari tengahku lebih
dalam dan memutar lebih keras jempolku pada tonjolan kecil di atas
bibir kemaluannya.

Kembali mulutnya bersuara, tapi kali ini lebih riuh dan lebih mirip
desisan. Sejenak mulutnya terlepas dari batang kemaluanku. Tapi sesaat
kemudian ia menunduk kembali dan melumat habis 'pisang ambon'ku hampir
ke pangkalnya dan mengisapnya sedemikian rupa sampai aku merinding
kegelian. Pantatku sempat tersentak-sentak karena keenakan.

"Kenapa...? enak ya....?" katanya sambil melirikku, lalu melanjutkan
kulumannya kembali.

Sepertinya Maryati ingin membalas atau mungkin ingin mengimbangi
perbuatanku tadi.

Selanjutnya kami tak sempat bicara sepatah kata pun karena terlalu
serius untuk saling melakukan dan menikmati rangsangan. Mataku
terpejam mencoba menikmati setiap isapan mulut Maryati, sementara
jari-jari tangan kananku terus asyik bermain-main di sekitar liang
kemaluannya.

Berbeda dengan milikku, rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan Maryati
tak terlalu lebat, tapi tumbuhnya lebih halus dan rapi. Dan aku suka
sekali mengusap-usapnya. Sedangkan rambut kemaluanku tentu saja lebih
kasar dan lebat tumbuhnya hingga ke arah pusar, perut dan dada.
Maryati juga suka mengusap-usap bulu-bulu yang tumbuh di sekitar
tubuhku itu. Katanya, dengan kondisi seperti itu, aku seperti
'nyomet', demikian ia memplesetkan istilah 'monyet'.

Siang itu akhirnya kami melakukannya sampai dua kali ....

Ronde pertama diawali ketika Maryati mulai bangkit dari posisi
tengkurapnya, lalu mulai mengangkangi pinggulku, dan kemudian
menelusupkan batangku yang sudah tegang keras itu ke sela-sela
pahanya. Dengan posisi antara duduk dan bersandar, aku mencoba
membantunya dengan sedikit mengangkat pantatku ke atas. Maka sedikit
demi sedikit amblaslah kepala kemaluanku ditelan mulut kecil yang ada
di selangkangannya. Terasa sekali liang ketat namun lembut menjepit
sepanjang batang kemaluanku. Rasanya hangat, lembut dan agak-agak
terasa kesat......

Kenikmatan semakin terasa ketika kepala kemaluanku yang sensitif itu
menyentuh ujung dinding vagina Maryati. Sejenak Maryati memutar-mutar
pinggulnya seolah merayakan pertemuan total itu. Secara spontan kami
berdua serempak memperdengarkan rintihan kenikmatan. Aaaahhhh........

Maryati pun tampaknya meresapi jejalan batang dan gesekan urat yang
ada di sekujur kemaluanku. Mulutnya mendesis-desis seperti orang
kepedasan. Beberapa kali jarinya berusaha menyentuh bagian luar bibir
kemaluannya seperti mau menggaruk seolah kegelian.

Maryati kemudian mengatur posisi berlututnya sedemikian rupa dan
beberapa saat kemudian ia mulai menggenjot tubuhnya naik turun. Makin
lama genjotannya makin cepat, sehingga membuat buah dadanya tampak
berayun-ayun di depan wajahku. Mulutku segera menangkap putingnya yang
sudah mengeras itu dan segera melumatnya habis. Ia menjerit tertahan.
Tapi aku tak mempedulikan dan bahkan makin asyik mengenyoti kedua
bukit padatnya itu bergantian. Sementara di bawah sana pinggulku terus
menyentak-nyentak mengimbangi genjotannya di atas tubuhku. Terasa
sekali rasa nikmat menjalar di sekitar pangkal dan sekujur batang
kemaluanku.

Suara hujan di halaman depan makin membuatku bergairah. Entah sudah
berapa lama kami dalam posisi seperti ini. Kami hanya bisa saling
memperdengarkan rintihan dan desah kenikmatan. Tubuh Maryati pun terus
meliuk dan menggeliat-geliat di atas tubuhku. Kedua pahanya yang sejak
tadi mekangkang dan bertumpu di jok sofa, mulai kuelus-elus. Dan ia
menyukainya karena lenguh kenikmatannya makin kerap terdengar.
Elusanku lalu bergeser ke bukit pantatnya. Tapi kini aku tak lagi
mengelus. Tanganku lebih sering meremas di bagian itu. Membuat Maryati
makin menggelinjang.

Kami mengakhiri permainan ketika Maryati mulai menunjukkan tanda-tanda
akan mencapai puncak birahi. Aku segera mempergencar tusukan dan
sentakanku dari bawah. Kedua tangannya sudah memeluk kepalaku sehingga
membuat wajahku terbenam di belahan dadanya. Kedua kakinya kini
menjepit erat pinggangku. Sementara posisi bersandarku sudah agak
melorot ke bawah. Beberapa menit kami masih sempat bertahan dalam
posisi itu sambil terus berpacu menuju puncak kenikmatan.

"...Masshh....Massshhh....Mass Isshh...."

"...Dik Maaarrrhh....ooohhhh...Dik....."

Kami saling memanggil nama masing-masing. Entah apa maksudnya.
Barangkali untuk menyatakan kemesraan, atau untuk mencoba menahan rasa
nikmat yang mulai sulit kami kendalikan.

Ketika nada jeritan Maryati mulai terdengar agak keras, aku segera
mengangkat tubuhnya, membalikkan dan membaringkannya ke badan sofa.
Kini dalam posisi aku berada di atas, kugenjot tubuhnya habis-habisan
sampai kami berdua akhirnya mencapai orgasme hampir bersamaan.

Aku mengerang-ngerang ketika kurasakan air maniku mulai menyembur. Ada
sekitar empat kali aku menembakkan pejuhku. Alirannya terasa sepanjang
batang kemaluanku. Rasanya berdesir-desir nikmat. Maryati pun kulihat
menikmati puncak birahinya. Wajahnya memerah dan matanya terpejam.
Sementara tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa geli yang menjalar
di seluruh tubuhnya. Aku segera melumat bibirnya dan kami pun
melengkapi puncak kenikmatan ini dengan ciuman yang dalam dan lama.
Sesekali tubuh kami tersengal oleh sisa-sisa letupan kenikmatan yang
belum sepenuhnya reda.

Suara riuh hujan tak terdengar lagi. Hanya bunyi tetes-tetes air yang
berdentang-dentang menimpa atap seng. Entah sejak kapan hujan mulai
reda. Kami terlalu sibuk untuk memperhatikannya.

Kami masih berbaring di atas sofa. Maryati berbaring di atas tubuhku
yang telentang. Tanganku mengusap-usap punggungnya yang masih
bergerak-gerak halus seiring nafasnya. Sementara tangannya bermain-
main di sekitar bulu dada dan perutku yang masih basah oleh keringat.

"Tidur di sini ya..." kataku membujuknya
"Tidur di sini? Di sofa ini?" tanyanya
"Bukan. Maksudku Dik Mar malam ini nginep di rumahku" jelasku
"Oo.....Boleh.... Tapi hadiahnya apa?" sahutnya mulai manja
"Hadiahnya?" tanyaku bingung. Aku terdiam sejenak, dan kemudian kuraih
tangannya lalu kuarahkan ke batang kemaluanku yang sudah mulai
melemas,"Niiih...hadiahnya!".

Ia tergelak dan kami lalu tertawa bersama. Tangannya kemudian meremas
milikku. Meremas dan terus meremas. Selanjutnya kami pun akhirnya
kembali bergelut di atas sofa itu, mempersiapkan permainan berikutnya.
Tapi untuk ronde kedua ini kami akan menyelesaikannya di kamar
tidur.....


(bersambung)

0 komentar:

Poskan Komentar