Rabu, 26 Agustus 2009

MITSUKO KAJIMURA (2) - THE PASSION

   Akhirnya  aku  merebahkan tubuhku di antara dua  gadis  cantik
dengan kecantikan yang sulit dikatakan siapa lebih cantik di antara
mereka berdua. Aku bisa mencium bau harum dari rambut Jeanne yang
berada di sebelah kananku dan rambut Mitsuko yang berada di sebelah
kiriku. Jeanne memeluk badanku yang terlentang dan menyandarkan
kepalanya di dada kananku.
"Honey..." bisik Jeanne sambil memainkan rambut di dadaku.
"Hmm..."
"What do you think if... if you can also give the support, I
mean the warm feeling that you have to me for Mitsuko? Don't you think
she also wants to be hugged like the one you are doing to me right
now?"
"Mitsuko... come closer if you don't mind." Kataku menjawab
permintaan Jeanne. Hatiku berdentang lebih keras. Belum pernah aku
mengalami hal seperti ini. Inilah pertama kali aku diminta oleh cewek
yang aku pacari untuk memeluk perempuan lain yang juga cantik! Mitsuko
menggeser tubuhnya dan memelukku. Dia menyandarkan kepalanya di dada
kiriku. Dada kiriku terasa hangat. Hey... Mitsuko menangis! Kuelus
tangan mulusnya yang memeluk tubuhku dengan tangan kiriku.
"What's the matter?" tanyaku sambil mengecup keningnya. Jeanne
tidak bereaksi. Mitsuko memejamkan matanya.
"Frank... I'm happy. I don't know what or how is my feeling
now, but I can feel the warm and secure that you give to me. I hope
this feeling can last long." Kulirik Jeanne tersenyum ke arah Mitsuko.
Tangan kanannya mengusap air mata Mitsuko. Aku tidak tahu, permainan
apa yang sedang dilakukan Jeanne terhadapku, yang jelas, aku sama
sekali tidak keberatan asal semua senang dan tidak keberatan. Mitsuko
mengecup lembut pipiku. Jeanne juga tidak mau kalah. Tangan Jeanne
"menuntun" tangan Mitsuko untuk menjelajahi dada dan perutku. Ada
sensasi aneh menjalari tubuhku. Aku rasakan batang kelelakianku
bangun.
"Honey... As I mentioned it to you, I have a little secret
that I want to share it with you," bisik Jeanne di telingaku. Aku diam
saja, hanya memandang dia seolah-olah berkata, "teruskan..."
"Mitsuko and I are best friends since we were kids. For some
reasons most likely business reasons, our fathers are also good
friends to each other. One day, we had a crazy little deal to each
other. That crazy little deal was whoever found the perfect man, she
had to share him with her if that perfect man also didn't mind to do
it. Now, I've found my perfect man, and that crazy little deal came up
in the perfect time and perfect situation. By accident, Mitsuko and I
met each other in Hiroko's party. You did something that made me proud
and made her fell in love to you. In fact, she just broke up with her
boyfriend last month..." sebelum Jeanne selesai dengan kata-katanya,
Mitsuko menyambung kalimat Jeanne.
"Frank, the first time I saw you, my heart was beating harder.
You can say it that I was falling in love to you in the first sight.
The moment I knew that you are Jeanne's special friend, I felt that my
heart was broken. But Jeanne brought that subject about our crazy
little deal and told me that you are in fact her perfect man. I
thought it was a little unbelievable in that time, but honestly I was
happy to hear that. The way you stood up in front of me and protected
me with your life really turned me on..."
Aku tidak membiarkan Mitsuko menyelesaikan kalimatnya.
Kusergap lembut mulut dia. Dia sedikit terkejut karena tidak siap
dengan sikapku. Perlahan kukulum bibirnya. Dia membalas ciumanku. Ada
desahan Mitsuko yang keluar dari sela-sela ciuman kami. Badannya
menggeliat di pelukanku. Sementara aku berciuman dengan Mitsuko,
Jeanne menciumi dan sesekali menjilati belakang telinga kananku.
Batang kelelakianku perlahan menegang dan membesar. Perlahan kusudahi
ciumanku dengan Mitsuko. Aku sekarang mengalihkan perhatianku ke wajah
Jeanne. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya, kemudian bibir kami saling
memagut dan mengulum. Jeanne mendesah. Tangan kanan Jeanne mengelus-
elus pipi kiriku saat kami berciuman. Kedua tanganku juga sibuk
mengelus-elus punggung kedua perempuan cantik yang ada di dekapanku.
Seperti yang Jeanne lakukan sewaktu aku berciuman dengan Mitsuko,
Mitsuko juga menciumi belakang telinga kiriku dengan sesekali
menjilatinya. Mitsuko merapatkan tubuhnya dan menggeser-geser tubuhnya
ke tubuhku. Kimono yang dikenakannya agak tersingkap. Aku merasakan
kulit yang terasa hangat dan kurasakan ada sesuatu yang mengganjal di
dekat tulang rusuk kiriku. Sesuatu yang lembut yang makin lama terasa
makin mengeras.
Pelan-pelan, kulepaskan ciuman Jeanne dan kukecup kening
Mitsuko supaya menghentikan serangannya di belakang telingaku.
Sebenarnya aku ingin sekali "mencoba" Mitsuko, tapi badanku letih
sekali. Takutnya malah nanti bakalan kebobolan, PE (premature
ejaculation) alias "peltu" (nempel metu) atau "STMJ" (sekali tekan
muncrat jauh). Aku pengin serangan pertama akan membekas dengan
positif, seperti yang kulakukan kepada Jeanne pertama kali.
"Girls... I'm tired. I love to do it now, but I'm afraid it
would not be perfect for all of us. Let us go take a rest and we can
have fun in the morning. How about that?"
Secara bersamaan Mitsuko dan Jeanne mencium pipiku, kiri-
kanan. Mereka tersenyum.
"Good night, Honey..." kata Jeanne lalu memelukku dan
memejamkan mata, mencium dadaku. Kukecup keningnya.
"Good night, Sweety..."
"Good night, Frank..." Kata Mitsuko sambil memelukku erat lalu
memegang tangan Jeanne. Ia mendongakkan kepalanya.
"Good night, Sweetheart..." kataku. Kemudian kukecup bibir
Mitsuko. Aku memejamkan mata, berusaha untuk rileks dan tidur. Ada
kedamaian malam itu di dadaku. Tak lama kemudian kami bertiga lelap
tertidur pulas.

------

Dar...dar...dar... Aku terkejut dari tidurku dan nyaris
melompat dari tempat tidur ketika kudengar pintu depan apartemen
Jeanne digedor orang. Kulihat Jeanne menggeliat juga terbangun gara-
gara gedoran itu. Mitsuko terbangun juga, di wajahnya tergambar
kecemasan. Kulirik jam dinding di kamar Jeanne. Hampir pukul sembilan.
Pulas juga tidur kami semalam, pikirku.
Aku bergegas mengenakan kimonoku yang kuambil dari lemari
pakaian Jeanne. Kukeluarkan juga pistol Baretta beserta sebuah klip
magazinnya, kumasukkan magazin peluru itu ke dalam lubangnya di bawah
gagang pistol, kukokang dan kupindahkan kunci pemicu dari "titik
berwarna hijau" ke "titik berwarna merah". Kuselipkan pistol yang
terisi dan siap ditembakkan itu di pinggang belakangku. Kusempatkan
untuk mencuci muka ala kadarnya dan berkumur dengan obat kumur. Aku
bergegas menuju ke arah pintu depan.
Dar...dar...dar... Kembali orang itu menggedor pintu, kali ini
lebih keras lagi.
"Just a second... I'm coming..." kataku agak berteriak.
Sebelum kubuka pintu apartemen Jeanne, aku mengintip dari
lubang intip (peep hole) di pintu. Kulihat Benny Chang, kakak Jeanne,
bersama dua orang yang belum kukenal di belakangnya. Entah mereka
berdua itu adalah temannya, anak buahnya di kantor, atau pengawalnya.
Kubukakan pintu untuk mereka.
"Hi Ben... Come on in!" sapaku kepada Benny. Benny segera
masuk disusul kedua orang di belakangnya.
"How's my sister, Frank? Where is she?" tanya Benny begitu dia
mendaratkan pantatnya di sofa.
"She's sleeping now, in her bedroom." Jawabku. Tadinya Benny
Chang ini agak tidak menyetujui hubunganku dengan adiknya, tapi lama
kelamaan dia bisa menerima setelah aku bersikap sangat bersahabat
dengannya dan sekarang malah kami berdua seperti dua orang sahabat.
Aku pikir, itu hal yang wajar dari seorang kakak laki-laki terhadap
adik perempuannya. Aku percaya hal itu timbul karena Benny sangat
menyayangi adiknya dan kuatir bahwa aku akan menyakiti hati adiknya.
Aku berjalan menuju ke arah dapur.
"Do you want something to drink? Coffee... tea... maybe?"
tawarku.
"No thanks, Frank. I just want to know what the hell was going
on last night." Aku terkejut juga mendengar pertanyaannya. Bagaimana
dia bisa tahu kejadian tadi malam kalau kami tidak pernah bicara
dengannya dan tiba-tiba pagi ini dia ingin tahu cerita itu dari
mulutku sendiri? Tapi pikiranku dengan cepat berubah dan maklum. Orang
seperti Benny Chang ini mempunyai banyak "mata" dan "telinga". Aku
tidak tahu pasti, tapi aku mendengar dari selentingan kabar kalau
keluarga Chang yang kukenal ini adalah anggota Triad (mafia Cina) dari
Taiwan. Jelas aku tidak akan dengan gilanya berani menanyakan hal ini
kepada Benny atau Jeanne, apalagi ayah mereka! Bukan karena takut,
tapi aku memang tidak mau cari masalah, toh mereka selama ini baik
terhadapku dan itu bukan urusanku.
Aku tidak segera menjawab pertanyaan Benny, malah menawarkan
kedua orang itu untuk minum. Tentu saja mereka menolak dengan halus
karena Benny juga tidak mau minum. Ah, sepertinya aku maklum kira-kira
siapa kedua itu. Aku membatalkan niatku menuju dapur. Kududuk di sofa
panjang yang bersikuan dengan sofa loveseat yang diduduki Benny. Kedua
orang itu hanya berdiri saja di belakang Benny.
"Well... Sh*t happened last night. Your sister and I went to
our friend's birthday party and so sudden out of nowhere came in bunch
of people, arrogant people, threaten the guests. Their leader tried to
do something to one of the guests, who was Jeanne's best friend..."
aku mencoba untuk menarik napas sejenak, rupanya Benny tidak sabar.
"So...???" tanya Benny sambil memajukan badannya dan menopang
kedua sikutnya di atas kedua pahanya.
"I basically did not let them to be a bully. Not in front of
me at least. I don't like that kind of attitude."
"I've heard that you kicked their asses..."
"I tried... I wasn't thinking that time. But later on LAPD
took care of the case and let us go home."
"Are you all right? I believe this will not end up last
night."
"I guess... I'm still here... Yes, I believe so. I believe
they will come back, take some kind of revenge, at least to me."
kataku sambil tersenyum.
Pintu kamar tidur Jeanne terbuka. Kami semua otomatis melihat
ke arah sana. Jeanne keluar dari kamar tidurnya, paling tidak dia
sudah mencuci mukanya. Wajahnya tampak segar kemerahan. Dia memeluk
leher kakaknya dari belakang dan mencium pipi Benny.
"Ta ke..." katanya yang artinya "kakak". Benny menjawabnya
dalam Bahasa Cina (Mandarin? Cantonese? Aku tidak tahu.) Mereka
bercakap-cakap dalam Bahasa Cina. Jeanne duduk di sampingku.
Sepertinya Benny menguatirkan keselamatan Jeanne dan Jeanne meyakinkan
kakaknya bahwa dia tidak apa-apa. Lalu Benny berdiri dari duduknya dan
mengulurkan tangannya, mengajakku untuk berjabat tangan. Aku juga
berdiri.
"Well... Frank, I have to go now. Thank you for everything.
Please take care of my little sister. If you need help or any
assistance, don't hesitate to call me directly. Anytime!" kata Benny
sambil menjabat tanganku dan menepuk pundakku.
"Thanks Ben... I will do my best."
Jeanne memeluk kakaknya sebelum pergi.
"You be good Sis! Give me a call if you need me."
"You be careful too. Don't work too hard!" balas Jeanne.
Benny dan kedua "temannya" segera meninggalkan apartemen
Jeanne setelah kedua orang itu memohon diri kepada kami. Aku menutup
pintu apartemen Jeanne. Jeanne memelukku dari belakang dan mencium
tengkukku.
"What do you want for breakfast Honey?" tanya Jeanne sambil
menuju ke dapur.
"Anything is fine with me. How's Mitsuko?"
"I think she's still in bed."
Aku menuju kamar tidur Jeanne untuk mengembalikan pistol yang
masih "hidup" yang ada di pinggang belakangku. Saat kumasuk ke kamar
Jeanne, kulihat Mitsuko sudah bangun tapi masih tiduran di atas tempat
tidur. Kimononya agak tersingkap di dadanya, menampakkan kulit dada
yang putih mulus dengan tonjolan kedua bukit dadanya yang nyaris
terlihat. Aku merasakan batang kelelakianku bergerak bangun.
"Frank..." desah Mitsuko sambil membuka lebar-lebar kedua
lengannya memintaku untuk memeluknya. Kuhampiri dia. Kupeluk dia dari
pinggir tempat tidur. Perlahan, kukecup dahinya. Mitsuko memejamkan
matanya. Perlahan bibirku menyusuri antara kedua matanya, cuping
hidungnya, dan terakhir mendarat di bibirnya. Kukulum lembut bibir
Mitsuko yang merah merekah. Dia membalas. Kami melakukan "french kiss"
dengan penuh perasaan. Ada sedikit rasa mint di lidahku. Rupanya
Mitsuko sempat bangun dan ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok
gigi. Tangan kiriku mengelus rambutnya, kemudian dengan jari-jariku
kususuri pipi kanannya, leher, belakang telinga kanannya dan terakhir
mendarat di dada kanannya. Kususupkan jemari tanganku ke dalam kimono
Mitsuko. Dia mendesah ketika jemari tanganku memainkan bukit dada
kanannya. Dengan lembut dan penuh perasaan, kuremas bukit dada kanan
Mitsuko dan sesekali kupilin-pilin ujung bukit dada itu. Aku merasakan
bukit yang tadinya lunak menjadi makin lama makin mengeras. Batang
kelelakianku menjadi tegang kaku dan menonjol di balik celana
pendekku.
"Aaaaggghh... Frank... akimochi... it feels sooo good!"
Mitsuko mencengkeram dan menggeser-geser tangannya di punggungku.
Ketika dia sampai di pinggangku, tangannya menyentuh pistol yang ada
di situ. Aku baru sadar kalau aku masih membawa pistol "hidup".
Perlahan kulepaskan pelukan Mitsuko.
"Sweetheart... wait a moment. Let me take this off and put it
back where it belongs." Kataku sambil menuju ke lemari pakaian Jeanne.
Kukeluarkan kotak penyimpanan pistol Beretta yang ada di tanganku.
Kukembalikan kunci pengaman picu dari "titik merah" ke "titik hijau",
kukeluarkan magazin pelurunya dari bawah gagang pistol dan kukokang
untuk mengeluarkan satu peluru yang tertinggal. Masing-masing
kumasukkan kembali ke tempatnya di dalam kotak penyimpanan dengan tak
lupa kumasukkan kembali satu peluru yang tersisa ke dalam magazin.
Belum sempat aku kembali ke arah Mitsuko, Jeanne membuka pintu
kamar dan berdiri di depannya.
"Breakfast's ready..." katanya.
"Let's go..." aku mengajak Mitsuko untuk menikmati sarapan.
Mitsuko menggeliat sebentar, lalu merapikan kimononya dan dengan malas
dia beranjak dari tempat tidur, menyusulku dan Jeanne.
Di meja makan telah terhidang nasi goreng dengan telur mata
sapi serta beberapa potong tomat dan ketimun. Di kursiku, telah
tersedia secangkir kopi panas sementara ada sepoci teh panas terhidang
di tengah meja. Jeanne memang pandai memasak, terutama masakan Cina,
dan dia pandai sekali memelihara "rumah" tempat tinggal dia. Kami
bertiga makan dengan lahap sambil bercakap-cakap ke sana-ke mari.
"So, who were those guys who came in this morning?" tanya
Mitsuko.
"Oh, it's just my brother and two of his friends." Jawab
Jeanne.
"Wow! How's Benny doing nowadays? It has been a long time
since we met each other last time. He used to call me little girl and
sometimes pinched my nose. I hated that when he did it to me."
Pikiranku melayang. Apa kata Benny kalau dia tahu Mitsuko ada di
apartemen ini dan dia tidur sekamar dengan Jeanne dan aku!
"He's doing good with his business in export-import. He didn't
know, I guess, that it was you who got trouble last night. I bet if he
knew what was really happened last night, he'd be pissed off big time.
He's still the same, hot temperamental and short fuse." Jeanne berkata
sambil mengiris potongan tomat.
Kami makan bertiga sambil mengobrol panjang lebar tentang apa
saja. Lebih tepatnya aku lebih banyak sebagai pendengar, karena Jeanne
dan Mitsuko lebih banyak saling bertukar cerita tentang pengalaman
mereka masing-masing selama berpisah satu sama lain.
Kulirik jam dinding di ruang makan. Tak terasa sudah pukul
sepuluh lebih. Kami semua sudah selesai sarapan.
"Just leave the dishes. I'll wash them." Tawarku.
"Let me do it!" kata Mitsuko.
"You don't have to. You are my guest here. Let him do the
dishes." Cegah Jeanne sambil tersenyum.
Mereka berdua segera masuk kembali ke dalam kamar tidur
Jeanne, mungkin berberes. Aku sendiri beranjak dari tempat dudukku dan
mulai mengangkati piring kotor dan mencuci piring-piring itu.
Sekitar 15-20 menit kemudian aku masuk ke dalam kamar tidur
Jeanne. Kulihat kedua gadis cantik itu sedang merias diri di depan
meja rias Jeanne. Ada wangi harum lembut menyergap hidungku. Pikiranku
bekerja cepat. Dalam waktu 15-20 menit, bagaimana kedua orang gadis
cantik itu bisa selesai mandi dalam waktu yang begitu singkat?
Kemungkinan besar mereka mandi berdua! Pikiranku melayang membayangkan
tubuh mulus mereka berdua di bawah pancuran shower. Aaah... aku
menggelengkan kepala mencoba mengusir pikiran nakalku. Aku tersenyum
ke arah mereka berdua.
"You two look great!" pujiku buat mereka berdua. Jeanne tetap
mengenakan "seragam" rumahnya, yaitu celana jins pendek dengan t-
shirt, menampakkan kakinya yang putih mulus dan jenjang. Mitsuko
mengenakan sebuah kemeja berwarna kuning lembut milik Jeanne dan
celana panjang santai. Tubuh Mitsuko dan Jeanne hampir sama bentuk
posturnya, hanya Mitsuko lebih tinggi sedikit dibandingkan Jeanne.
Mereka hanya tersenyum kepadaku. Sebelum mereka berkata lebih lanjut,
aku sudah buru-buru masuk kamar mandi untuk mandi pagi, membersihkan
badan. Pagi ini memang kami semua tidak punya rencana apa-apa selain
tinggal di apartemen. Mungkin kami akan pergi makan siang bersama
nanti. Aku pikir, Mitsuko tentunya masih sedikit trauma dengan
kejadian tadi malam di pesta ulang tahun Hiroko.
Aku mandi di bawah pancuran air hangat yang menyemprot dengan
tekanan yang cukup kuat bagaikan memijat bahu, tengkuk dan belikatku.
Kurasakan otot-otot tubuhku terasa agak kaku gara-gara kejadian tadi
malam. Badanku terasa segar setelah selesai mandi. Aku lupa mengambil
pakaian bersih dari lemari, jadi aku keluar dari kamar mandi hanya
dengan tubuh telanjang berlilitkan handuk menuju ke lemari pakaian
yang berada di samping meja rias Jeanne.
Mitsuko memandangku dengan pandangan mata yang kurasakan lain.
Ia menyapu pandangan matanya ke arah otot-otot perutku yang tercetak
dengan kencang dan padat (dan mungkin ke arah selangkanganku yang agak
menonjol di balik lilitan handuk).
"Hey... Honey... come here for a second!" kata Jeanne sambil
menarik tanganku yang hendak membuka pintu lemari pakaian. Dengan
perlahan, Jeanne melingkarkan tangannya ke tengkukku dan menarik
kepalaku ke arah bibirnya. Dengan lembut Jeanne mencium dan mengulum
bibirku. Aku membalasnya. Bibir kami saling mengulum. Kami saling
memagut. Entah bagaimana dengan Mitsuko yang melihat adegan itu.
Jeanne mendesah saat kuraba dada kanannya dengan tangan kiriku.
Kupeluk Jeanne sambil mengelus punggung dia. Jeanne menarik tangan
Mitsuko dan menuntun Mitsuko dan "mengajak"ku ke arah tempat tidurnya.
Jeanne merebahkan punggungnya di tempat tidur, sementara aku
masih mengulum bibirnya dan berada di atas Jeanne. Tangan Mitsuko
dituntun Jeanne untuk meraba dan mengelus punggungku. Kusingkapkan t-
shirs Jeanne ke atas. Terpampanglah kedua bukit dadanya yang tidak
mengenakan bra. Perlahan, kususuri leher jenjang Jeanne dengan
lidahku. Jeanne mengerang perlahan. Ia menggeser-geserkan pinggulnya
sehingga jinsnya menggeser-geser handuk yang melilit di pinggangku
tepat di selangkanganku. Perlahan tapi pasti batang kelelakianku
bangun. Tegak, kencang. Akhirnya lidahku sampai pada bukit dada Jeanne
yang sebelah kanan. Kujilati dan kuisap perlahan putingnya yang sudah
mengeras. Sementara Mitsuko sibuk menciumi tengkukku dan memelukku
dari belakang. Tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali meraba-raba
perut Jeanne.
Aku merasakan geli yang nikmat saat Mitsuko menjilati punggung
pada tulang punggungku dengan ujung lidahnya. Menyusurinya dari
tengkuk hingga ke pinggang, berhenti di sana karena terhalang handuk.
Jeanne mendorong tubuhku hingga aku terlentang di tempat tidur.
Direnggutnya handuk yang melilit pinggangku. Batang kelelakianku
tersembul tegak mengacung dengan tegangnya saat handuk itu terlepas.
Mitsuko terperanjat melihat batang kelelakianku yang relatif besar
buat ukuran cowok Asia.
"Woooww... Frank...!" seru Mitsuko. Jeanne hanya tersenyum
simpul mendengar seruan Mitsuko. Kutarik tengkuk Mitsuko, mengarahkan
bibir merahnya ke arah bibirku. Kami berciuman dengan saling pagut dan
saling kulum. Aku merasakan geli yang amat sangat saat Jeanne mengulum
batang kelelakianku, menjilati dari pangkal hingga ujungnya. Syaraf-
syarafku meremang merasakan desiran-desiran di sekujur tubuhku.
Mitsuko mengerang dan melenguh saat bukit dada kirinya kuisap dan
kujilati dengan rakusnya (tentu saja kemeja yang dikenakan Mitsuko
sudah kubuka terlebih dahulu). Entah bagaimana ceritanya, kami bertiga
sudah bertelanjang bulat. Aku kagum dengan tubuh putih mulus Mitsuko.
Rambut-rambut pubisnya lembut dan dicukur rapi. Jeanne dan Mitsuko
memiliki dua kecantikan yang tidak bisa dibandingkan. Masing-masing
mempunyai daya tarik sendiri-sendiri. Aku sungguh sangat beruntung
bisa mendapatkan keduanya.
Mitsuko mengerang seperti orang yang sedang menangis saat
gerbang kewanitaannya aku jilati dengan ujung lidahku. Ia
mengangkangkan selangkangannya di depan mulutku yang dengan sigap
menyergap gerbang kewanitaannya yang menebarkan wangi yang khas. Aku
tidak tahu, beberapa temanku mengatakan bahwa gerbang kewanitaan
seorang wanita ada yang baunya sangat menyengat, tapi setahuku, selama
ini aku belum pernah menemukan yang seperti itu. Apa aku memang
beruntung? Aku tidak tahu. Mitsuko adalah perempuan ketiga yang pernah
aku cium gerbang kewanitaannya.
Sementara aku sibuk menjilati dan menikmati gerbang kewanitaan
Mitsuko yang terhidang di hadapanku, Jeanne sibuk dengan serangan-
serangannya terhadap batang kelelakianku. Yang jelas, kami bertiga
sudah sangat terangsang. Aku bisa merasakan cairan kewanitaan yang
keluar dari gerbang kewanitaan Mitsuko. Jeanne sendiri semakin lama
semakin bernafsu untuk mengulum, mengocok dan mengisap batang
kelelakianku. Aku merasakan nikmat yang luar biasa saat Jeanne
mengulum dan memutar-mutar ujung lidahnya pada ujung batang
kelelakianku. Tangan kiriku meremas-remas sambil terkadang memilin-
milin payudara kanan Mitsuko dan tanganku yang kanan berkarya di
payudara Jeanne.
"Aaaagggghhh... Frank... Frank...!!!" erang Mitsuko sambil
memejamkan matanya dan meremas-remas kedua payudaranya sendiri (tangan
kanannya "membantu" tangan kiriku melakukan tugasnya). Aku tahu bahwa
Mitsuko sedang "berperang" dengan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya.
Batang kelelakianku sudah tegak tegang siap tempur dengan
tonjolan urat-urat yang membayang. Kurebahkan Mitsuko di tempat tidur
hingga dia terlentang. Perlahan, kugeser-geserkan batang kelelakianku
yang sudah siap tempur itu ke belahan bukit gerbang kewanitaan
Mitsuko. Gerbang yang berwarna merah jambu itu telah basah oleh cairan
kewanitaannya dan telah siap menerima batang kelelakianku yang keras
dan besar seperti mentimun.
"Ooooouuuugggghhhh... Slowly Frank... aaaaaagggghhh...."
Mitsuko mengerang, entah kesakitan entah keenakan saat batang
kelelakianku dengan pelan-pelan memasuki gerbang kewanitaannya.
Penisku hanya memasuki kira-kira sepertiganya. Mitsuko mendekapku
erat, mungkin merasakan nikmat yang luar biasa. Perlahan, kuputar
panggulku sehingga penisku seperti mengebor vagina Mitsuko.
"Oooooooougggghhhhhh.... Hmmmmppppphhhh...." Mitsuko terus
melenguh, mengerang, dan seperti menangis. Aku mulai mengayunkan
pinggulku dan menghujamkan penisku dengan agak menyentak ke dalam
vagina Mitsuko. Penisku seperti dijepit. Wuuuuaaaah.... nikmat sekali
rasanya. Ada sensasi yang menjalari seluruh tubuhku, rasa geli, rasa
nikmat. Penisku sepertinya mentok hingga ke vagina Mitsuko yang
terdalam, menyisakan kira-kira seperempat bagian. Aku memompa dengan
gerakan-gerakan 9 kali dalam dan 3 kali dangkal, ilmu yang aku
pelajari dari sebuah buku tentang hubungan seks ala taoist. Akibatnya,
Mitsuko semakin merasa melayang tembus dan semakin kehilangan kontrol.
Tiba-tiba aku merasakan geli dari pangkal penisku saat Jeanne
dari bawah tubuhku dan Mitsuko menjilati pangkal penisku dan sesekali
mengulum kantung penisku. Apalagi saat Jeanne dengan ujung lidahnya
memainkan dan menyapu dengan memutar-mutar titik "huiyin" (di antara
anus dan kantung penis). Gila....!!! Rasanya luar biasa. Ada semacam
energi yang mulai bangkit dari pinggangku, dari titik "ming-men".
Kutarik tubuh Mitsuko yang masih bersatu dengan tubuhku ke
ujung tempat tidur. Perlahan, kubalikkan tubuhnya. Dengan bertumpu
pada kedua tangannya di pinggir tempat tidur, aku menusuk dan menikam
vagina Mitsuko dari belakang. Mitsuko melenguh dan dengan napas
tersengal-sengal dia menyebut-nyebut namaku dan bergumam dalam Bahasa
Jepang yang tak kumengerti. Aku memompa Mitsuko dengan gerakan pelan
dan cepat dalam kombinasi 6 pelan dan 3 cepat. Tanganku menyusuri
kepalanya di antara rambutnya yang panjang dan hitam berkilat. Kuelus
dan kumainkan dengan jari-jariku kepala, telinga, bahu dan punggung
putih mulus Mitsuko. Mungkin Mitsuko sudah semakin kehilangan
kesadaran atas seranganku yang bertubi-tubi dan terus menerus.
Kepalanya berulang kali menengadah dan menunduk mengikuti irama
sensasi yang menjalari tubuhnya. Sesekali aku juga meremas-remas bukit
dada Mitsuko yang menggantung keras.
Rasanya penisku semakin erat dicengkeram vagina Mitsuko. Aku
merasakan denyutan-denyutan halus pada penisku. Hmmm... sepertinya
sebentar lagi Mitsuko akan segera mencapai orgasmenya yang pertama
denganku.
"Ooooooh Frank.... I'm almost coming..." Mitsuko berseru
sambil mencengkeram tanganku yang sedang meremas-remas pantatnya yang
padat dan bulat. Aku berkonsentrasi. Kusalurkan energi yang meledak-
ledak dan nyaris membobolkan pertahananku ke seluruh tubuhku. Aku
merasakan ada semacam aliran listrik statis yang mulai menjalari
tubuhku. Mitsuko seperti tersentak dan melenguh panjang saat dia
mencapai orgasmenya. Otot-otot vaginanya seperti tegang kaku
mencengkeram erat penisku.
"Aaaaaaaaaaaggggghhhhh...." tubuh Mitsuko yang tadinya
melengkung sambil menahan rasa nikmat yang terakhir, akhirnya lemas
lunglai di atas tempat tidur. Aku masih memainkan penisku keluar masuk
ke dalam vagina Mitsuko yang sepertinya sudah pasrah. Kulirik jam
dinding di kamar Jeanne. Wow, sekitar 25 menit untuk Mitsuko, yang
pertama. Biasanya, perempuan yang bisa multi orgasme akan segera
mengalami rentetan orgasme yang susul menyusul tak lama setelah
orgasmenya yang pertama. Paling tidak, itu yang aku tahu dari Jeanne.
Kubalikkan tubuh Mitsuko dan kuangkat tubuhnya lalu kudekap.
Penisku masih ada di dalam vaginanya. Mitsuko sudah pasrah dan tidak
bertenaga lagi. Aku duduk di pinggir tempat tidur dan mendekap Mitsuko
dalam pangkuanku. Penisku berdenyut-denyut di dalam vagina Mitsuko.
"Mitsuko... Sweetheart..." bisikku di telinga Mitsuko sambil
perlahan meniup telinga Mitsuko. Mitsuko memelukku semakin kencang. Di
antara desahan dan erangannya, dia berkata, "Frank... ooohhh...
Frank... I love you..."
Kukulum bibir Mitsuko. Dia melenguh... Kami saling bersatu. Perlahan,
kusalurkan energiku ke tubuh Mitsuko. Sensasi dalam bentuk aliran
listrik statis bergerak dari pinggangku ke penisku dan kusalurkan ke
vagina Mitsuko. Aku merasakan denyutan-denyutan vagina Mitsuko kembali
mengencang dan mengeras. Tak lama kemudian, aku merasakan ada tenaga
yang luar biasa yang mencoba untuk membobol pertahananku. Aku mencoba
untuk bertahan. Kuputar dan kualihkan tenaga itu dengan konsentrasi
penuh. Aku merasakan nikmat yang luar biasa sekali. Akhirnya, Mitsuko
tidak kuat lagi menahan gelombang orgasme yang datang silih berganti.
Dia kehabisan tenaga dan mencabut vaginanya dari penisku secara
perlahan. Dengan lemas dia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukanku.
"Ooohhh... Frank... You're great! You are killing me..."
Kukecup perlahan bibirnya dengan penuh kelembutan, dan kurebahkan
tubuhnya ke tempat tidur. Mitsuko tergeletak dengan wajah menampakkan
kepuasaan yang sangat dengan sisa-sisa bara birahinya.
Jeanne dengan bernafsu memeluk dan menciumi wajahku. Aku
membalas perlakuannya dengan nafsu yang sama besarnya. Batang
kelelakianku masih tegak tegang dan mengangguk-angguk, basah oleh
cairan kewanitaan Mitsuko. Aku menidurkan Jeanne di sebelah tubuh
telanjang Mitsuko yang terlentang tanpa daya dengan senyum bahagia di
wajahnya. Kuciumi leher putih mulus milik Jeanne. Tanganku berkarya
dengan menjawil-jawil payudaranya dan sekali-sekali memilin-milin
putingnya.
"Honnneeeeyyy.... hhhmmmmppp...." Jeanne menghujamkan jari-
jarinya di punggungku saat kuisap dan kumainkan puting payudaranya
dengan lidah dan bibirku. Kususuri dada dan perut Jeanne dengan ujung
lidahku yang kuputar-putar. Jeanne menggelinjang kegelian dan
menikmati permainanku. Tangan Jeanne tidak tinggal diam. Dia memegang
batang kelelakianku dengan tangan kirinya dan mengocoknya dengan
lembut. Hmmpp... aku merasakan geli bercampur nikmat kembali merambati
susunan syarafku, apalagi saat Jeanne memutar-mutar ujung kepala
batang kelelakianku dengan jemarinya yang lentik.
"Hssssh... Sweety... I want to come together with you, My
Love... I love you, Sweety..." bisikku di telinga Jeanne. Mendengar
bisikanku, Jeanne menyergap bibirku dan melumatnya dengan sangat
bernafsu.
Kubalikkan tubuh Jeanne sehingga dia tertelungkup. Kuciumi
tengkuk dan belakang telinganya dengan kombinasi jilatan-jilatan ujung
lidahku. Jeanne mencengkeram seprei tempat tidurnya. Ujung lidahku
menyapu seluruh punggung dan samping badannya. Ada titik-titik kecil
bermunculan di sekujur tubuh Jeanne. Dia merinding saat aku menyapu
seluruh punggung putih mulusnya dengan ujung lidahku. Kuremas-remas
pantat Jeanne yang kencang. Kusibakkan kedua kakinya pelan-pelan.
Tampak bukit gerbang kewanitaannya yang sepertinya sudah basah oleh
cairan kewanitaannya. Kujilati paha dalam Jeanne, kiri dan kanan
dengan secara iseng aku mampir di gerbang kewanitaannya. Dia menjadi
gemas dan geram dengan permainan lidahku. Akhirnya, kudaratkan lidahku
di antara lubang pembuangan dan gerbang kewanitaannya. Kuputar-putar
lidahku di sana. Jeanne tersentak, saat secara bersamaan dengan
putaran lidahku, aku memasukkan sebuah jariku perlahan ke dalam
gerbang kewanitaannya. Kuputar-putar jariku di dalam gerbang
kewanitaan Jeanne yang sudah sangat basah dengan lembut. Jeanne
mendesis.... Kususul sebuah jari lagi memasuki gerbang yang lembab
itu. Jeanne mencengkeram seprei semakin keras saat jari-jariku main-
main di sebuah titik yang dinamakan orang G-spot.
"Uuuuuggggghhhh... Hooonnnn.... Let's do it now... I want you
now...!" pinta Jeanne untuk segera memulai permainan kami yang
sesungguhnya. Batang kelelakianku yang belum kering dari cairan
kewanitaan Mitsuko secara perlahan kuarahkan ke gerbang kewanitaan
Jeanne. Kugeser-geserkan batang kelelakianku di belahan selangkangan
Jeanne untuk mencari arah sasarannya. Setelah tepat, perlahan,
kudorong untuk memasuki vagina Jeanne.
"Aaaaaah.... Frankkkk...!!!"
"Like it Sweety?"
"Uuughh... uuughhh... get busy inside!"
Aku hanya tersenyum. Kupenuhi permintaan Jeanne untuk "get
busy inside". Aku mulai memaju-mundurkan pinggulku dan mengeluar-
masukkan penisku dalam vagina Jeanne. Aku tidak menyalahkan Jeanne
yang ingin segera memulai permainan yang sesungguhnya. Mungkin dia
jadi sangat bernafsu saat melihat aku dan Mitsuko saling bersatu dan
menerbangkan Mitsuko ke alam kenikmatan.
Entah karena kebetulan, atau memang karena secara alami memang
demikian, Jeanne dan Mitsuko rupanya sama-sama sangat suka dengan
posisi "rear entry" (doggy style) ini. Aku bermain di dalam vagina
Jeanne dengan jurus yang sama yang kugunakan pada Mitsuko. Tanganku
dengan tidak tinggal diam juga berkarya di sekujur tubuh Jeanne.
Jeanne membalikkan badannya setelah sekitar 10-15 menit aku
beraksi di dalam vagina Jeanne dari belakang. Dia menyuruhku untuk
berdiri dan mengangkatnya. Ya... Jeanne juga suka sekali dengan posisi
bersenggama seperti ini, walaupun terkadang bisa melelahkan aku karena
aku harus menyangga beban tubuh Jeanne. Tapi dengan posisi begini,
biasanya Jeanne cepat bisa meraih orgasmenya. Jeanne merangkulkan
kedua tangannya di leherku, mencium dan melumat bibirku dengan sangat
bernafsu, sementara aku mengayunkan pantat Jeanne yang kusangga,
sehingga terdengar suara berkecipakan yang dihasilkan dari gesekan
penisku dengan vagina Jeanne.
"Oooooohhhh.... Hoooonnnnnn.... Hold on.... I'm
cooooommmminnggghhhh.... Hmmmppphhh...." Jeanne mendesah sambil
kemudian mengisap lidahku. Aku merasakan ada aliran listrik statis
yang mengiringi cengkeraman vagina Jeanne pada penisku. Aku pun segera
menerima dan merasakan aliran listrik statis yang berputaran di
sekujur tubuhku. Ooooooouuugggghhhh.... aku merasakan sensasi yang
luar biasa pada tubuhku. Geli... nikmat... lega... puas... campur aduk
tidak karuan. Rasanya lututku hampir tidak kuat menahan beban tubuh
Jeanne dan aku. Aku seperti tersengat listrik tegangan rendah. Tubuhku
rasanya seperti dijalari ribuan semut. Aku merinding. Kutekuk lidahku
dan kutempelkan pada langit-langit mulutku untuk mengalirkan "energi
Kundalini" yang terbangkitkan dan bergerak liar di tubuhku. Rasa
hangat kemudian menjalari sekujur tubuhku.
Aku berputaran dan berjalan beberapa langkah sambil masih
menggendong Jeanne yang masih menggelayut dengan penisku dan vaginanya
masih saling bertautan. Gesekan dan hujaman penisku membuat Jeanne
merintih-rintih.
Perlahan, kubaringkan tubuh Jeanne di tempat tidur. Kulirik
Mitsuko yang rupanya sudah tertidur pulas. Kutahu dari gerakan
nafasnya yang lembut, membuat dadanya yang telanjang mulus dihiasi
oleh bukit kembar dengan puncak berwarna pink bergerak naik turun
dengan irama yang teratur. Jeanne menurut saja saat badannya
kumiringkan menghadap ke kanannya. Batang kelelakianku yang tidak
sengaja tercabut karena posisi ini masih terlihat perkasa, mengacung
tegak tegang kaku, basah dan berdenyut-denyut manggut-manggut.
Kuangkat kaki kiri Jeanne ke arah pundakku. Perlahan, kumasukkan
kembali penisku ke dalam vagina Jeanne secara menyamping. Bukit dada
kiri Jeanne kuremas-remas dengan tangan kiriku, tentu saja dengan
variasi pilinan dan pijatan erotis di bukit itu. Tangan kananku tidak
tinggal diam. Aku meraba dan menggelitik punggung Jeanne, sambil
terkadang meremas-remas pantatnya.
"Oooouggghhh... Hooonnneeeyyy... I'm ready for my next
pleasure... It's soooo... hmmmppphh..." Jeanne tidak dapat melanjutkan
kata-katanya karena penisku menghujam keras hingga menyentuh dinding
terdalam dari vaginanya. Kaki mulus yang melingkar di pundakku tidak
kusia-siakan. Dengan kumisku, kugelitiki paha dalamnya kuselingi
dengan jilatan-jilatan ujung lidahku.
Tak berapa lama kemudian, aku kembali merasakan denyutan-
denyutan keras otot-otot vagina Jeanne. Ada sesuatu yang membanjiri
penisku yang memenuhi vaginanya. Aku pun hampir kembali merasakan
orgasmeku yang kedua. Uuuuuuggghhhh.... kembali rasa geli yang amat
sangat menyerangku, seperti ada sesuatu yang mencari jalan untuk
keluar melalui penisku.
Kudekap erat Jeanne setelah meletakkan kakinya melingkar di
pinggangku. Kugigit daun telinga kiri Jeanne dengan bibirku sambil
kutiup telinganya. Aku memejamkan mataku. Desakan pada penisku kucoba
untuk bisa kutarik dan kualirkan ke seluruh tubuhku. Jeanne sudah
menyalurkan getaran-getaran listrik statis yang kuterima dengan baik.
Rasanya aku nyaris tidak berhasil. Kubantu dengan menekan titik
"huiyin" dengan 2 jari tangan kananku. Aku berhasil. Perlahan, aku
bisa menguasai energi itu dan kemudian secara sinkron bersatu dengan
energi Jeanne. Hmmmmpppphhh....
"Jeannnn.... I'mmmpphh coooommminnggghhhh...." bisikku. Otot
perutku mengencang, saluran pembuanganku kututup. Kutarik dan kusedot
energi Jeanne.
"Hooonnn.... hang on... meeee toooo... uuugggghhhh..."
Seperti ada sebuah cahaya yang terang sekali dalam pandangan
mataku yang terpejam yang kemudian disusul dengan pandangan yang gelap
dan terkadang ada pola-pola berwarna hijau/kuning fosfor dalam
pandanganku. Rasanya damai sekali. Jeanne memeluk tanganku yang sedang
memeluknya dari samping. Dia menicumi wajahku dan kemudian melumat
lembut bibirku.
"Honey... It's another great one! Thanks..."
"Hssstt... It's my pleasure too... Thanks to you too...
Sweety.."
"I love you Hon..." Jeanne kemudian menciumku kembali, tidak
memberikan kesempatan kepadaku untuk mengatakan bahwa aku juga
mencintainya. Tubuh kami yang tadinya merinding karena sergapan
orgasme untuk kedua kalinya ini kini terasa hangat. Titik-titik
keringat yang membasahi tubuh kami seakan menjadi saksi atas
"pertempuran" yang baru saja terjadi. Aku masih mendekap Jeanne dengan
penisku masih berada di dalam vagina Jeanne. Baik penisku maupun
vagina Jeanne masih terasa saling berdenyut. Aku merasakan ada sesuatu
yang mengaliri kulit ari penisku. Cairan kewanitaan Jeanne yang
membanjir!
Perlahan kulepaskan batang kelelakianku dari gerbang
kewanitaan Jeanne. Batang kelelakianku masih tegak tegang walaupun
sudah tidak maksimum lagi. Basah! Tapi bukan dari sari kejantananku.
Jeanne membalikkan badannya sehingga terlentang. Aku mengangkangi
wajahnya dengan selangkanganku dalam posisi 69 dan aku berada di atas.
Jeanne segera menangkap batang kelelakianku yang masih basah, kemudian
mengulum dan menjilatinya. Aku agak merintih menahan geli yang
menyergap hingga ke ubun-ubun tembus. Kujilati gerbang kewanitaan
Jeanne yang basah oleh cairan kewanitaannya yang membanjir hingga
keluar. Kuisap dan kujilati hingga bersih.
Setelah "senjata"ku dan "sarung senjata" milik Jeanne bersih,
aku menarik tubuh Jeanne untuk sejajar dengan tubuh Mitsuko,
menyisakan sedikit ruang untukku berbaring di tengah mereka. Aku
merebahkan tubuh telanjangku di tengah-tengah Mitsuko (sebelah
kananku) yang telah pulas dan Jeanne yang segera merangkulku. Kutarik
selimut untuk menyelimuti kami bertiga. Tangan kananku menyusup ke
bawah leher Mitsuko untuk merangkulnya. Secara tak sadar, Mitsuko
balas merangkulku. Kucium kening Mitsuko dan Jeanne bergantian. Dadaku
perlahan kembali teratur. Ada rasa puas yang tak terkira yang
kurasakan. Damai... Kulirik jam dinding di kamar Mitsuko. Not bad...
pikirku. Sudah lewat pukul dua, dan kami bertiga masih berada di atas
tempat tidur... telanjang... berangkulan....

Bersambung?

0 komentar:

Poskan Komentar