Rabu, 26 Agustus 2009

MITSUKO KAJIMURA (1) - The Beginning

   Seingatku,  saat  itu  adalah akhir liburan  musim  panas  dan
hampir memasuki masa kuliah musim gugur. Aku berjalan keluar dari
gedung perpustakaan "The Powell Library" milik kampus UCLA yang
bercorak seperti gabungan dari gereja St. Sepolcro di Italia dan
gereja San Zenova yang juga di Italia. Gedung perpustakaan ini
merupakan salah satu dari empat gedung tertua di lingkungan kampus
UCLA. Aku mempercepat langkahku sambil melirik jam tanganku. Hmm. aku
terlambat lima menit nih janjian dengan Jeanne di depan Ackerman Union
Building (Student Activities Center).
Tak berapa lama, aku hampir sampai di depan Ackerman Union dan
kulihat Jeanne sudah menungguku di anak tangga di sebelah pintu masuk.
Aku berlari kecil.
"Sorry I'm late, Sweety." kataku sambil mengecup keningnya.
"It's OK. So, let's go. I guess most of our friends are
already there." Jawab Jeanne sambil melingkarkan tangannya ke
pinggangku. Hari itu adalah kira-kira 2 bulan sejak Jeanne dan aku
terlibat hubungan yang intim. Kebetulan, pada hari yang sama, salah
seorang teman kami, dia orang Jepang (namanya Hiroko Watanabe),
berulang tahun dan mengundang kami untuk merayakan ulang tahunnya di
sebuah restoran Jepang di daerah Hyperion Avenue.
Kami berdua bergegas menuju tempat parkir mobil sambil
bergandengan tangan. Kali ini kami menggunakan mobil Jeanne, BMW 325i
M3 warna merah metalik, dan Jeanne yang mengendarai. Dengan gesit
Jeanne mengemudikan mobilnya di sela-sela keramaian jalan-jalan di Los
Angeles diwaktu senja menjelang malam.
Kami banyak terdiam saja selama dalam perjalanan ini. Musik
yang dilantunkan oleh James Ingram mengiringi laju kendaraan kami.
Kulirik Jeanne. Betapa cantiknya dia. Kulitnya yang putih mulus sangat
kontras dengan gaun malam berwarna hitam yang mencetak bentuk tubuhnya
yang seksi. Dia tidak mengenakan make up yang tebal, hanya bedak tipis
dengan lipgloss di bibir. Aku memang tidak ingin dia memakai lipstick,
karena tanpa lipstick pun bibir Jeanne sudah merah merekah dan
sepertinya selalu tampak basah segar. Rambutnya yang panjang hingga
sepinggang digelungnya seperti membentuk stupa dan ditusuk dengan
hiasan tusuk konde dari jade berbentuk burung hong. Sebuah kalung emas
berliontin berlian menghias lehernya yang putih jenjang. Aku pernah
becanda ke dia bahwa aku bisa melihat cappucino yang dia minum lewat
lehernya karena saking putihnya.
Akhirnya kami sampai juga ke restoran yang kami tuju. Jeanne
memarkir mobilnya di tempat parkir yang sudah mulai penuh. Restoran
ini berlantai dua. Lantai dasar adalah untuk tamu biasa dan lantai dua
adalah untuk pengunjung privat dan dalam jumlah banyak. Kami berdua
segera menaiki tangga menuju lantai dua. Suasana di situ sudah ramai
sekali. Tentu saja sebagian besar tamu yang diundang adalah orang
Jepang. Aku melihat ada beberapa orang yang aku kenal. Si Ram Mukerjee
dari India yang lagi naksir berat sama Hiroko tapi dicuekin, Paolo
Garibaldi yang dijuluki "Mafia Kecil" karena dia dari Italia dan
memang bertubuh kecil dan pendek untuk ukuran orang Italia, Takeshi
Komori yang dijuluki orang sebagai seorang pesumo karena badannya yang
super tambun, dan Leifeng Tu, seorang Cina dari Hong Kong, anak salah
seorang taipan Hong Kong. Di meja lain, aku melihat si Kembar John dan
Peter Guttenberg yang pandai sekali memainkan biola. Mereka sedang
asyik becanda dengan pacar mereka masing-masing, yang juga kembar! Di
sudut ruangan, ada empat perempuan Jepang sedang memainkan alat musik
Yutaka (semacam kecapi Jepang) sebagai hiburan pengantar santap malam.
Hiroko menyambut kami berdua dengan wajah tampak sangat
gembira. Jeanne dan Hiroko saling peluk dan saling menempelkan pipi.
Jeanne mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas tangannya dan
diberikan kepada Hiroko. Hiroko menerimanya dengan mengucapkan terima
kasih. Aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada Hiroko dengan
menyalaminya dan mengecup kedua pipinya. Hiroko adalah salah seorang
temanku dan teman Jeanne bahkan sebelum aku dan Jeanne saling kenal.
Hiroko tampak manis dengan pakaian tradisional Jepang berwarna biru
dan putih yang dikenakannya, sangat kontras dengan sekelilingnya yang
kebanyakan memakai pakaian berwarna gelap. Hiroko adalah putri tunggal
Katsuo Watanabe yang terkenal sebagai salah satu konglomerat Jepang.
Ini adalah pesta ulang tahunnya yang ke-21, umur yang dianggap dewasa
di negeri Paman Sam ini. Aku agak terkejut sewaktu Hiroko membuka
hadiah dari Jeanne. Seuntai kalung dengan liontin bertuliskan "Hiroko"
bertatahkan berlian! Aku tidak menyalahkan Hiroko yang juga terkejut
dan diekspresikan dengan wajahnya yang terbelalak dan kemudian memeluk
Jeanne erat-erat sambil berulang kali mengucapkan terima kasih.
Kami berdua dipersilakan duduk satu meja dengan Hiroko (ini
memang karena sebelumnya sudah diatur demikian atau karena Jeanne
memberi hadiah kalung berlian, aku tidak tahu). Jeanne dan Hiroko
kemudian tampak ngobrol dengan akrabnya yang diselingi dengan tawa
keduanya. Aku cuma basa-basi dengan orang-orang di sekitarku yang satu
meja denganku, kemudian menikmati appetizer sup miso sambil mencoba
menikmati dentingan yutaka yang mulai kalah suaranya dengan keramaian
pesta. Aku melirik jam tanganku, masih sekitar 10 menit lagi, pikirku.
Resminya, pesta akan dimulai pukul 07:30 pm.
Kira-kira lima menit kemudian mataku tiba-tiba menatap seorang
perempuan cantik, tinggi dan berkulit putih, kemungkinan besar Jepang,
yang baru saja masuk ke ruangan pesta. Dia memakai gaun malam berwarna
merah marun, berjalan anggun menuju ke arah meja kami setelah melihat-
lihat ke kiri dan ke kanan seperti orang yang sedang mencari sesuatu.
Tiba-tiba Hiroko dan Jeanne berteriak histeris ketika melihat
perempuan itu menghampiri mereka, "MITSUKO-CHANG!!!!" dan mereka
berdua bergegas menghampiri perempuan cantik itu. Mereka tertawa dan
sepertinya larut dalam kegembiraan bagaikan sahabat yang sudah lama
tak pernah bertemu. Gila. siapa nih cewek kece? Pikirku bertanya-tanya
dalam hati. Rencananya aku akan tanyakan kepada Jeanne nanti.
"Frank. I would like you to meet Mitsuko. Mitsuko Kajimura,
one of my best friends and long lost friend." Jeanne mengenalkan
perempuan cantik itu, yang rupanya bernama Mitsuko Kajimura. Aku
mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya.
"Mitsuko, this is Frankie, my special friend." Kata Jeanne
sambil menekankan kata "special friend". Mitsuko tersenyum. Manis
sekali!
"Hi. How do you do?" kataku sambil menjabat tangannya. Terasa
lembut dan halus. Ada getar-getar aneh terasa menjalari dadaku. Apa-
apaan ini, pikirku.
"I'm fine. Thank you. It's nice to see you." Jawabnya.
Kemudian Hiroko dan Jeanne mengajaknya duduk di antara mereka.
Jeanne menyuruhku bergeser tempat duduk yang kebetulan memang masih
kosong. Terus terang, aku sering sekali mencuri pandang ke arah gadis
itu. Pikiranku sibuk terbang mencari-cari wajah yang familiar yang
sepertinya aku kenal. Wajah imut-imut dan cantik manis. Akhirnya,
setelah berusaha keras, aku tersenyum sendiri. Ternyata Mitsuko mirip
sekali dengan Chiasa Aonuma! (buat yang doyan browsing gambar seru
pasti kenal dengan dia) Hanya bedanya, Mitsuko mempunyai sebuah tahi
lalat kecil di bawah bibirnya, yang menambah manis wajahnya.
Pesta dimulai tepat pukul 07:30 pm. MC-nya seorang Jepang
dengan aksennya yang kental mengumumkan dalam Bahasa Inggris bahwa
acara akan segera dimulai dan meminta Hiroko untuk berbicara. Hiroko
pada dasarnya mengatakan bahwa dia berbahagia dan berterima kasih atas
kedatangan kami semua, disertai basa-basi dan sedikit jokes. Setelah
Hiroko selesai berbicara, dari arah dapur keluar seorang pelayan
sambil mendorong meja yang di atasnya ada sebuah kue ulang tahun yang
tinggi dengan hiasan lilin berangka "21". Kami serentak menyanyikan
lagu "Happy Birthday" buat Hiroko.
Belum sempat Hiroko memotong kuenya setelah meniup lilin, kami
semua dikejutkan oleh kedatangan orang-orang "berseragam" dan bergegas
menuju arah Hiroko. Mereka semua sepertinya orang-orang Jepang, berjas
hitam dengan dasi hitam, berambut pendek, jumlahnya sekitar selusin.
Sebagian dari mereka mengenakan kacamata hitam. Rupanya mereka
dipimpin oleh seorang Jepang yang bertubuh cukup tinggi dan berwajah
persegi.
"I apologize to interrupt this party, Ladies and Gentlemen,"
kata si Jepang tadi. "We have a little business here with one of the
guests." lanjutnya. Anak buahnya sudah dalam posisi mengepung meja
kami. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dalam Bahasa Jepang yang
tak kumengerti. Gila. apa-apaan ini, pikirku. Salah seorang dari teman
Hiroko mencoba untuk berbicara, atau kelihatannya seperti memaki dalam
Bahasa Jepang, tapi tiba-tiba si Jepang tinggi itu melancarkan sebuah
pukulan yang telak bersarang di rahang teman Hiroko. Akibatnya, teman
Hiroko itu jatuh tersungkur. Situasi tempat pesta menjadi panik.
"BE QUITE!!!" teriak si Jepang tinggi itu. Suasana menjadi
hening. Si Jepang tinggi itu menghampiri Hiroko dan bercakap-cakap
dalam Bahasa Jepang. Hiroko tampak marah. Kulihat Mitsuko tampaknya
seperti ketakutan. Ia menggenggam erat jemari Jeanne yang juga berdiri
di sebelahnya. Kemudian si Jepang tinggi tadi mengalihkan pandangannya
ke arah Mitsuko. Dia berkata-kata dalam Bahasa Jepang kepada Mitsuko,
tapi Mitsuko tidak membalas.
Aku bergerak dari tempatku berdiri, ke arah Mitsuko dan
mengajaknya pindah tempat. Ku isyaratkan Jeanne supaya agak menepi
bersama Mitsuko, biarpun masih dalam kepungan orang-orang berseragam
itu.
"What the f*ck are you doing in here? You better leave or we
call the police!" kataku sambil berdiri menantang si Jepang tinggi.
Dia hanya tersenyum.
"So. You want to be a hero, huh?" selesai berkata demikian,
dia melancarkan sebuah pukulan "mawashi tsuki" (swing) kanan ke arah
rahangku. Aku sudah siaga dari awal. Dengan teknik "Naga Menyelam
sapunjud Tohok Naga" (buat pembaca yang familiar dengan teknik ini,
maka akan tahu dari perguruan silat mana saya berasal), aku menggesut
sambil meliukkan badan dan kepalaku menghindari pukulan dia kemudian
kususul dengan pukulan dari bawah ke atas ke arah dagunya. Karena dia
tidak menyangka bahwa aku bisa menghindari serangannya dan balas
menyerang, maka dia tidak siap. Pukulanku telak masuk bersarang di
dagunya, membuat dia terhenyak ke belakang. Dia memegang dagunya,
kemudian memasang kuda-kuda "kamae" (posisi bersedia dalam karate).
Rupanya dia seorang karateka.
"Hmm. No wonder you have guts! Let's play!" katanya sambil
serentak melancarkan sebuah tendangan "mae geri" (tendangan lurus) ke
arah pusar, disusul dengan pukulan "san bon chuki" (3 pukulan
berantai).
"Your sh*ts don't work for Indonesian martial art, Punk!"
kataku di sela-sela hindaran dan egosan serangan beruntun dia. Orang-
orang tambah ketakutan. Otomatis mereka semua berpindah ke tepi
ruangan. Beberapa ada penuh rasa ingin tahu malah menonton pertarungan
kami. Si Jepang penyerangku terus menyerang tanpa memberiku
kesempatan. Serangannya susul menyusul. Aku sengaja masih mencoba
untuk melihat peluang. Beberapa meja dan kursi menjadi tak karu-
karuan, berantakan diterjang oleh tendangan-tendangannya yang tidak
mengenai sasaran.
Akhirnya, setelah kurasa cukup mengenal pola serangan dia, aku
mulai balas menyerang. Sebuah tendangan "jodan mawashi geri"
(tendangan melingkar ke arah kepala) mengarah ke arah kepalaku.
Kusalurkan sedikit tenaga dalamku ke tangan kiriku. Begitu tendangan
itu hampir mengenai sasarannya, kutangkis tendangan tadi dengan teknik
"Tolak Luar Garuda" dan kuhantam tulang keringnya dengan pinggiran
telapak tanganku. Terdengar suara berderak. Dia meringis menahan
sakit. Tangkisanku kususul dalam tempo sepersekian detik dengan teknik
"Slosor sapunjud Kuntul". Dia tidak menyangka serangan tiba-tiba yang
memang tidak lazim ini. Aku menyerang dengan tendangan mengayun ke
arah selangkangannya sambil kuteruskan dengan pukulan buku-buku jariku
ke arah lehernya. Dengan kecepatan kilat, kedua seranganku masuk telak
tanpa halangan ke arah sasarannya masing-masing. Dia limbung hendak
jatuh KO. Sebelum jatuh mencium tanah, kurenggut kepalanya dengan
teknik "Terkam Harimau" dan kuadu dengan lututku. Begitu kulepaskan
kepalanya, dia jatuh tak berkutik, terkapar di lantai. Lututku terasa
hangat oleh darah yang keluar dari mulut dan hidung lawanku. Sebelum
pingsan, dia sempat memerintahkan anak buahnya, "Kill..!!!" dengan
suaranya yang terakhir.
Orang-orang berpakaian jas hitam itu serentak masing-masing
mengeluarkan sebatang tanto (pisau berbentuk miniatur pedang samurai)
dari balik jas mereka. Secara bersamaan, mereka menerjang ke arahku
bagaikan air bah. Aku bersedia dan siap menerima setiap serangan.
Syaraf-syarafku terasa bergetar. Kurasakan hawa hangat mengalir dari
arah dantien-ku, dan tengkukku serasa dirambati ribuan semut. Inilah
Ilmu Bayu Sejati yang aktif dikala aku dalam bahaya. Tubuhku terasa
ringan dan sekujur tubuhku seperti dialiri listrik statis.
Pendengaran, refleks dan gerakanku semakin peka dan cepat.
Aku tidak terlalu kuatir dengan orang-orang yang menyerangku,
tapi ketika kulihat salah seorang dari mereka hendak menyerang Mitsuko
dan/atau Jeanne, aku menjadi agak terpecah. Aku memekik yang kusertai
dengan lambaran ajian "Sengoro Macan" untuk memecah perhatian mereka.
Sejenak mereka seperti termangu sekitar 2-3 detik. Tapi itu cukup
untuk membuka kepungan dengan menghantam pingsan dengan sekali pukul
salah seorang hari mereka dan bersiap menerjang penyerang yang hendak
mencelakai Mitsuko dan/atau Jeanne. Aku terkejut dan terbelalak ketika
sebelum aku sampai untuk melindungi mereka, Jeanne menyambut
penyerangnya. Dengan lemah gemulai, Jeanne menangkis serangan pisau
itu dengan telapak tangannya, memutarnya, lalu melancarkan sebuah
pukulan tangan terbuka ke arah dada penyerangnya. Itu adalah jurus
"Menyisir Surai Kuda" dari Butong Thay Kek Kun! Jeanne tersenyum ke
arahku.
"Wudang Taijiquan! Go Girl!" teriakku. Aku sudah tidak kuatir
lagi dengan keadaan Jeanne dan Mitsuko. Aku percaya kemampuan Jeanne
untuk membela diri ketika kutahu dia menguasai jurus-jurus Butong Thay
Kek Kun (Wudang Taijiquan) dari Butongpai yang diciptakan oleh Thio
Sam Hong (Chan San Feng). Jurus-jurus itu "hanya" berjumlah 13 jurus,
tapi kalau dilatih dengan sungguh-sungguh dan mahir, jarang ada yang
bisa mengalahkannya. Jeanne rupanya memberi hajaran yang cukup kuat,
soalnya ketika kulirik lawannya yang terkapar dan tak sadarkan diri,
dari mulutnya mengalir darah. Luka dalam, entah mati, entah pingsan.
Aku kembali bersiap menghadapi orang-orang Jepang yang masih
beringas hendak merajamku dengan tanto mereka masing-masing. Tiba-
tiba, kulihat temanku, Takahiro Kawawa, berlari ke arah salah satu
penyerangku, menggunakan sebuah kursi sebagai pijakan, dan melancarkan
sebuah tendangan "yoko tobi geri" (tendangan loncat ke samping) ke
arah kepala disertai sebuah teriakan "kiaiii." panjang. Atas serangan
mendadak dan tak terduga dari seorang tamu yang bertubuh relatif kecil
dibanding mereka, dia tak siap dan terkejut. Terlambat! Kaki Takahiro
(yang sering dipanggil "Tako" atau "gurita" oleh teman-temannya) yang
kecil mendarat telak di pelipis kiri. Orang itu langsung jatuh
tersungkur. Nantinya baru kuketahui bahwa Takahiro Kawawa ini di
negaranya adalah juara nasional Kejuaraan Karate Full Body Contact dan
dia adalah pemegang sabuk hitam Dan 2 dari Kyoku-Shin Kai-nya
Masutatsu Oyama.
Bantuan dari Takahiro ini sangat berpengaruh dengan jalannya
pertarungan keroyokan antara 2 lawan hampir selusin. Aku sudah
meloloskan ikat pinggang kulitku dan kujadikan sebagai senjata. Sabuk
kulitku melecut-lecut dan menari-nari di antara hujan serangan.
Sialan, pada ke mana semua nih polisi? Kalau lagi dibutuhkan pada
nggak ada, tapi kalau giliran nilang orang cepet banget! Batinku.
Kejadian itu sebenarnya berlangsung relatif cepat, "hanya"
sekitar 15-20 menit, tapi rasanya pada saat itu waktu berjalan sangat
lambat. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengkomando dalam Bahasa
Jepang untuk mundur (aku pikir), karena mereka semua kemudian kabur
dan meninggalkan 4 orang yang terkapar, termasuk pemimpin mereka. Kami
semua membiarkan mereka untuk kabur dan tidak mengejar. Kulihat baju
Takahiro sobek besar di bagian perut dan darah menghiasi bajunya. Wah,
rupanya dia terluka. Aku sendiri tidak terluka, hanya bajuku basah
kuyup mandi keringat. Kuhampiri dia.
"Are you all right?" tanyaku sambil menepuk pundaknya dan
melihat perutnya. Rupanya luka dia tidak serius, hanya luka
terserempet saja, sepanjang kira-kira 5-7 cm.
"I'm fine. Thanks! This is just a scratch." Katanya sambil
mengambil lap makan dan menekan perutnya.
Kulihat orang-orang banyak yang bergerombol dan masing-masing
sibuk dengan kepanikannya sendiri-sendiri. Banyak juga yang kemudian
meninggalkan ruangan dan pulang. Sayup-sayup kudengar suara sirene
meraung-raung dari jalan. Baru kutahu kemudian bahwa mereka telah
memutus hubungan telefon dan yang melaporkan kepada 911 (nomor darurat
di AS) adalah toko yang bersebelahan dengan restoran itu yang
mendengar keributan tadi. Pengacau itu juga rupanya menyuruh tamu-tamu
yang di lantai bawah untuk pergi meninggalkan restoran dan menyandera
pemilik dan pelayan restoran.
Aku berjalan menghampiri Jeanne, Mitsuko dan Hiroko.
"Who the hell are they?" tanyaku ke Mitsuko. Mitsuko tidak
menjawab, malah tiba-tiba dia menangis sambil memelukku. Aku kaget dan
tidak menyangka. Aku jadi salah tingkah. Kulirik Jeanne. Dia memberi
kode untuk membiarkan dan kupikir dia bisa mengerti. Kubalas pelukan
Mitsuko. Kuelus punggungnya. Perlahan, kulepaskan pelukan dia dan
kuberikan segelas air putih. Setelah selesai minum, dengan
sesenggukan, Mitsuko bercerita.
"They are Yakuzas." Paparnya. Aku sudah menyangka. Yang tak
kusangka, menurut penuturan Jeanne, Mitsuko ini adalah putri dari
Toshio Kajimura, seorang raja kapal Jepang yang namanya bisa
disejajarkan dengan Onassis. Rupanya ayah Mitsuko pernah melakukan
suatu deal dengan kelompok mafia Jepang ini dan dianggap tidak
memenuhi janjinya. Kuhampiri pemimpin mereka yang terkapar tak
sadarkan diri. Kulihat orang itu tidak mempunyai jari kelingking kiri,
tanda bahwa dia sudah pernah gagal dalam melaksanakan tugas dan masih
mendapat pengampunan. Mungkin dengan gagalnya tugas dia kali ini, dia
akan kehilangan nyawanya. Entah dengan bunuh diri atau dibunuh oleh
rekan-rekannya atas perintah bossnya.
Banyak polisi dan petugas paramedik berdatangan tak lama
kemudian. Takahiro telah mendapatkan perawatan seperlunya dan dia
menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Polisi kemudian menanyai kami
satu per satu dan kami harus mengisi berita laporan yang memakan waktu
sekitar 45 menit hingga satu jam.
"Honey, I will bring Mitsuko to my apartment and ask her to
stay with me for a while. Let somebody take care of her car. She'll
go with us." Kata Jeanne setelah polisi selesai dengan kami dan
membolehkan kami pulang.
"That's fine with me. Let me drive your car and you can sit
with her on the back seat." Jawabku sambil menerima kunci mobil
Jeanne. Kami bertiga pamit kepada Hiroko yang masih terlihat pucat
setelah yakin bahwa Hiroko tidak apa-apa. Banyak teman kami yang
menawarkan bantuan untuk mengantar Hiroko pulang, jadi Jeanne dan aku
tidak terlalu kuatir dengan dia.
Singkat cerita, kami sudah sampai dengan selamat di apartemen
Jeanne. Perjalanan memakan waktu relatif agak lama dari waktu yang
biasanya karena aku harus memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti
perjalanan kami. Aku mengemudikan mobil Jeanne melalui jalan-jalan
yang tidak biasa kulalui, melewati jalan-jalan yang relatif sepi
sehingga aku bisa melihat bila ada yang mengikuti kami.
Jeanne mengajak Mitsuko ke kamarnya. Aku ke dapur, menyalakan
kompor dan menjerang air. Aku akan membuat teh panas buat kami. Tak
berapa lama, air pun mendidih dan kuseduh teh Tikuanyin kesukaan
Jeanne ke dalam sebuah teko. Kutunggu mereka di ruang makan.
Jeanne keluar bersama Mitsuko. Aku tercengang melihat Mitsuko
dan Jeanne yang baru selesai mandi. Mitsuko mengenakan kimono biru
muda milik Jeanne. Kulitnya yang putih mulus tampak segar dengan
rambut yang masih basah. Jeanne pun tak kalah cantiknya dengan celana
jins pendek kegemarannya dan t-shirt tanpa mengenakan bra. Samar-samar
kulihat bukit dadanya yang selalu membuatku tak kuat. Tiba-tiba ada
rasa aneh berdesir di dadaku.
"Sweety, I made some tea for us. Let me take a shower first.
You can go ahead and don't have to wait for me." Kataku sambil menuju
ke kamar Jeanne, mengambil baju ganti (aku seringkali menginap di
apartemen Jeanne sejak pertama kali aku berhubungan intim dengan dia),
dan kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan
menyegarkan badan sehabis "berolah raga" tadi. Air shower kamar mandi
terasa menyegarkan badanku.
Setelah selesai mandi, aku mengambil sebuah bantal dari tempat
tidur Jeanne dan akan kubawa ke arah sofa. Rencananya aku malam ini
hendak tidur di sofa, sekalian "menjaga" mereka berdua.
Jeanne berjalan ke arahku, sementara Mitsuko masih duduk di
ruang makan, menikmati tehnya. Jeanne menggamit lenganku, mengajakku
ke dalam kamarnya. Aku tak mengerti apa maunya. Kuturuti keinginannya.
Dia membuka lemari pakaiannya, mengeluarkan dua buah kotak. Satu
berukuran sekitar 25x30 cm dan satu lagi berukuran sekitar 15x75 cm.
Diletakkannya kedua kotak itu di atas tempat tidur. Aku terkejut
ketika mengetahui isi kotak-kotak itu.
"I hope you can use this." kata Jeanne sambil membuka kotak
yang pertama. Isinya adalah sepucuk pistol Beretta 92F kaliber 9 mm
berwarna hitam dengan 2 klip magazin berisi penuh.
"And this is actually our family heirloom," lanjut Jeanne
sambil membuka kotak kedua, mengeluarkan isinya, sebuah pedang bermata
dua yang indah dengan hiasan sebuah bunga teratai dari perak di dekat
gagangnya, dengan hiasan rumbai-rumbai kuning-merah di ujung
gagangnya.
"My father gave this sword to me after I graduated high
school. It is called the Silver Lotus Sword. I believe you can use
this more than I do. I let you borrow these stuffs until everything's
settled down and back to normal." Jeanne kemudian menyerahkan kedua
kotak itu kepadaku.
Kuperhatikan pistol Beretta itu dengan seksama, lalu
kumasukkan kembali ke dalam kotaknya. Demikian juga Pedang Teratai
Perak milik Jeanne. Kucabut dari sarungnya dan kuperhatikan baik-baik.
Pedang yang halus dan indah. Punggung pedangnya berukir dengan
kaligrafi huruf-huruf Cina dan mata pedangnya sangat tajam. Ada
sebersit rasa yang menggiriskan yang membuat rambut-rambut di
tengkukku terasa meremang. Sepertinya pedang ini ada "isinya".
Kusarungkan kembali pedang itu dan kumasukkan kembali ke dalam
kotaknya. Kedua kotak itu kemudian aku letakkan kembali ke dalam
lemari pakaian Jeanne.
Tok.tok.tok. Tiba-tiba Mitsuko sudah berada di depan pintu
kamar.
"Am I interrupting something?" tanya Mitsuko.
"No. not at all." kata Jeanne dan aku hampir berbarengan.
Kami akhirnya bersama-sama kembali menuju meja makan,
menikmati teh hangat sambil bercakap-cakap. Tak terasa, jarum jam
sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Terus terang aku merasa capek dan
penat.
"I'm sorry Girls, but I'm tired. Would you please excuse me?"
tanyaku sambil bangkit untuk menuju ke sofa.
"Hey Frank. Where do you want to sleep" tanya Jeanne. Ada
kerling nakal di wajah Jeanne. Dengan langkah-langkah genit, dia
menghampiriku.
"Of course in this couch. Why?"
"Well. Would you mind if you sleep in usual place?" aku makin
tak mengerti arah pembicaraan Jeanne. Jeanne memelukku dari belakang
dan menggelayut dengan manja.
"I mean. Do you want to sleep in the bedroom?" tanya Jeanne
lagi sambil bibirnya mencium belakang telingaku.
"What? How about Mitsuko? Where she's gonna sleep?" tanyaku
kelihatan tolol.
"My bed is big enough for three of us. What do you think?"
"Is that OK with her? If that is OK with her and with you, of
course I wouldn't mind at all!" kataku setengah tidak percaya.
Bagaimana tidak? Jeanne menawariku untuk tidur satu ranjang bertiga
dengan dia dan Mitsuko! Gila apa kalau aku sampai menolak?
"I'll tell you a little secret later, Honey. So, case closed.
Let's go to bed. Mitsuko and I are tired too."
Mitsuko berjalan ke arah kamar mendahului Jeanne dan aku. Dia
sempat mengerling dan tersenyum padaku. Agak aneh juga rasanya sewaktu
aku beranjak ke tempat tidur. Tadinya aku mengambil tempat di pinggir
dan berpikir bahwa Jeanne akan mengambil tempat di tengah, tetapi
Jeanne memaksaku untuk tidur di tengah, di antara Mitsuko dan dia!
Waduh. mimpi apa aku semalam ya?

Bersambung?

0 komentar:

Poskan Komentar